Answere dask B.Inggris Bisnis 2 Part A Structure and Part B Written Expresision bagian yang ke empat
Part A Structure:
1. There …. A card in the parking los last night
a. Are the
b. Is
c. Was
d. A
Answere :
c. was
alas an : karena last yang di gunakan adalah plural, maka objeknya plural juga.
2. Linda and her sister ….. at home now.
a. Are
b. Is
c. Was
d. Were
Answere :
a. Are
Alas an : untuk objek tersebut yang di gunakan adalah are
3. What …. You do yesterday ?
a. Do
b. Did
c. Are
d. Have
Answere :
b. Did
Alas an : verb yang digunakan singular, jadi objeknya singular juga.
5. Lisa has some new novels but I don’t have … novels at all.
a. Some
b. A
c. Much
d. Any
Answere :
d.any
Alas an : karena have ( plural), maka objeknya plural juga.
Answere to part B Written Expression :
16. He likes apples and my sister does either.
A B C D
Answere : d. either
Answere : karena either adalah plural, harusnya too yang digunakan.
25. the jacket is big too either for you or for me.
A B C D
Answere : b. big too
Alas an : kalimat pasif, harusnya verb yang di ke 3
37. Were you surprised see them last night at they party ?
A B C D
Answere : b. to see
Alas an : karena see adalah pleral, harusnya see yang digunakan ditambahkan ‘ to ‘ di depannya.
38. The seminar was conducted in the seventeenth of December 2006.
A B C D
Answere : c. in
Alas an : kalimat pasif, seharusnya ver yang ke-3 yang digunakan.
Tampilkan postingan dengan label SKUTER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SKUTER. Tampilkan semua postingan
Senin, 23 Mei 2011
Jumat, 20 Mei 2011
Tugas Bahasa Inggris Part 3
PRACTICE TEST FOUR
Structure - Part A
2. He was an ...
answer = d. obident children
reason = karena articles 'an' itu untuk objek konsonan vokal maka yg tepat yg awalan katanya huruf vokal atau hidup
5. You should bring ... umbrella.
answer = a. an
reason = karena umbrella awalan hurufnya vokal maka articles yg dipakai 'an'.
6. I need to drink ... water because I am thirsty.
answer = c. some
reason = karena 'water' adalah objek yg tidak bisa dihitung dan jumlahnya banyak.
9. ...your sisters going shopping at the moment?
answer = a. is
reason = karena Present Continuous Tense yang dipakai maka kata tanya yg digunakan bentuk ' to be'.
Written Expression - Part B
18. I attended the book launching yesterday, but I could not get the write's autograph.
answer = B. book launching
reason = harusnya dibalik ..menjadi launching book
22. I wanted to thank them for all their kind.
answer = D. kind
reason = harusnya kind'nya dalam bentuk kata benda..maka lebih tepatnya adalah kindness.
24. Them always play tennis on Saturday afternoons or on Sunday mornings.
answer = A. them
reason = subjek yg digunakan adalah orang pertama -> They
29. My brother always goes to campus on car everyday.
answer = C. on car
reason = harusnya by car.
-PART A- (STRUCTURE)
1. Where does the girl... now?
answer= D. work
reason= karena yg diminta verb dlm bentuk pertama (present tense)
2. Some of my classmates... English course now.
answer= C. take
reason= karena jumlah subke nya banyak (plural) maka verb yg di pakai verb1 tanpa tambahan 's'
3. When she arrived at home, her parents...TV.
answer= B. were watching
reason= karena past continuous dan subjek nya plural
6. I understand what... are saying.
answer=C. they
reason= yg diminta subjek pertama..
-PART B- WRITTEN EXPRESSION
25. I sometimes hear the baby to cry at night.
answer= A. sometimes
reason= peletakan keterangan 'sometimes' tepatnya di awal kalimat sebelum subjek
27. Peter was the first arrive at school yesterday morning.
answer= B. arrive
reason= karena keterangan waktunya lampau (yesterday) maka verb yg di gunakan bentuk Past tense -> arrived
37. Jack, with her friend Albert, always go swimming on Sundays.
answer= A. with
reason= kata penghubung yg tepat adalah 'and' .
40. What are your parents doing last night at home when you arrived?
answer= A. are
reason= karena keterangan waktunya Past Tense maka to be yg di gunakan 'were' .
Structure - Part A
2. He was an ...
answer = d. obident children
reason = karena articles 'an' itu untuk objek konsonan vokal maka yg tepat yg awalan katanya huruf vokal atau hidup
5. You should bring ... umbrella.
answer = a. an
reason = karena umbrella awalan hurufnya vokal maka articles yg dipakai 'an'.
6. I need to drink ... water because I am thirsty.
answer = c. some
reason = karena 'water' adalah objek yg tidak bisa dihitung dan jumlahnya banyak.
9. ...your sisters going shopping at the moment?
answer = a. is
reason = karena Present Continuous Tense yang dipakai maka kata tanya yg digunakan bentuk ' to be'.
Written Expression - Part B
18. I attended the book launching yesterday, but I could not get the write's autograph.
answer = B. book launching
reason = harusnya dibalik ..menjadi launching book
22. I wanted to thank them for all their kind.
answer = D. kind
reason = harusnya kind'nya dalam bentuk kata benda..maka lebih tepatnya adalah kindness.
24. Them always play tennis on Saturday afternoons or on Sunday mornings.
answer = A. them
reason = subjek yg digunakan adalah orang pertama -> They
29. My brother always goes to campus on car everyday.
answer = C. on car
reason = harusnya by car.
-PART A- (STRUCTURE)
1. Where does the girl... now?
answer= D. work
reason= karena yg diminta verb dlm bentuk pertama (present tense)
2. Some of my classmates... English course now.
answer= C. take
reason= karena jumlah subke nya banyak (plural) maka verb yg di pakai verb1 tanpa tambahan 's'
3. When she arrived at home, her parents...TV.
answer= B. were watching
reason= karena past continuous dan subjek nya plural
6. I understand what... are saying.
answer=C. they
reason= yg diminta subjek pertama..
-PART B- WRITTEN EXPRESSION
25. I sometimes hear the baby to cry at night.
answer= A. sometimes
reason= peletakan keterangan 'sometimes' tepatnya di awal kalimat sebelum subjek
27. Peter was the first arrive at school yesterday morning.
answer= B. arrive
reason= karena keterangan waktunya lampau (yesterday) maka verb yg di gunakan bentuk Past tense -> arrived
37. Jack, with her friend Albert, always go swimming on Sundays.
answer= A. with
reason= kata penghubung yg tepat adalah 'and' .
40. What are your parents doing last night at home when you arrived?
answer= A. are
reason= karena keterangan waktunya Past Tense maka to be yg di gunakan 'were' .
Senin, 21 Juni 2010
How good my interpersonal skill are?
Untuk mempunyai interpersonal skill yang bagus karakter yang bagus pula. Berikut ini adalah langkah-langkah untuk meningkatkan interpersonal skill seseorang yang diantaranya adalah :
1.Smile
2.Be appreciative
3.Speak clearly
4.Be a good listener
Dari ke-4 yang saya sebutin saya mempunyai :
1.Smile
2.Be appreciative
3.Speak clearly
4.Be a good listener
5.Rendah hati
Bagaimana kebaikkan dan kekurangan ku?
Kebaikkan :
Murah senyum
Baik hati
Perhatian
Menghargai orang lain
Rendah hati
Pendengar yang baik
Kekurangan
Mudah Emosi
Cuek
Untuk mempunyai interpersonal skill yang bagus karakter yang bagus pula. Berikut ini adalah langkah-langkah untuk meningkatkan interpersonal skill seseorang yang diantaranya adalah :
1.Smile
2.Be appreciative
3.Speak clearly
4.Be a good listener
Dari ke-4 yang saya sebutin saya mempunyai :
1.Smile
2.Be appreciative
3.Speak clearly
4.Be a good listener
5.Rendah hati
Bagaimana kebaikkan dan kekurangan ku?
Kebaikkan :
Murah senyum
Baik hati
Perhatian
Menghargai orang lain
Rendah hati
Pendengar yang baik
Kekurangan
Mudah Emosi
Cuek
Kamis, 20 Mei 2010
Hubungan softskill dengan Gayus Tambunan
Jika ditanya hubungan, jawabannya adalah pasti. Mengapa demikian? . Soft skill sendiri merupakan keahlian yang dimiliki seseorang dalam kehidupan sehari-hari terutama di bidangnya ataupun penunjangnya. Namun, seringkali keahlian yang dimilikinya disalahgunakan dengan sesuatu yang dapat merugikan orang lain. Nah, disinilah hubungan antara soft skill dan perilaku korupsi terbentuk.
Umumnya, orang melakukan korupsi ada 3 faktor yaitu : kebutuhan hidup, kesempatan, dan kemampuan. 3 hal tersebut adalah mesin gerak perilaku korupsi akan berjalan. Kebutuhan hidup yang semakin hari semakin menggunung tak pelak membuat otak manusia memutar otak untuk mencari solusi guna mencukupinya. Namun, pada tahap ini, perilaku korupsi kecil kemungkinan terjadi karena rakyat indonesia khususnya lebih memilih untuk berhutang kepada orang. Jika hutangpun tak bisa dilalui, maka jalan pintaspun terpaksa akan dilakukan seperti mencuri dan korupsi. Wajar, mengingat kapasitas yang akan merugi sedikit. Pada tahap kedua, yaitu kesempatan. Kapasitas yang akan merugipun akan semakin meningkat jika sesorang melakukan korupsi mempunyai kesempatan untuk melakukannya. kesempatan akan memudahkan pelaku korupsi melakukan aksinya lebih sering. Akibatnya, orang-orang yang merugi karena ulahnya semakin hari semakin besar dan meluas. Namun, dalam tahap ini, masih ada kelemahan, jika teknik korupsi yang dilakukan hanya mengandalkan kesempatan saja karena seiring waktu juga, orang akan merasa curiga dan mengetahuinya.
Pada hal ketiga, yaitu kemampuan. Mungkin, Gayus Tambunan sosok paling tersohor di media massa saat ini mempunyai 2 hal yang utama diatas, kesempatan dan kemampuan. Dengan kesempatan yang terbuka lebar, kemampuan Gayus yang katanya menyelewengkan pajak menyokong keberhasilannya dalam mengerok uang negara sebanyak-banyaknya. Jumlah yang dibawa pulangpun tak tanggung-tanggung, dan media-media dan Koran-koran menyebutkan sebesar 26 Milyar rupiah.Wao bayangkan, jika seorang Gayus pun bisa mengambil uang sebesar itu, berapa banyak uang negara yang akan terkuras jika banyak Gayus baru bermunculan.
Yang jelas korupsi adalah perbuatan yang tidak terpuji dan sangat bertolak belakang seseorang yang mempunyai softskill dengan seseorang yang melalukan tindakan korupsi. Seseorang yang mempunyai softskill pasti berpikir beribu-ribu kali untuk melakukan tindakan tidak terpuji itu.
Intinya, tulisan ini menginspirasikan kita untuk menggunakan soft skill yang kita miliki dengan sebaik-baiknya dalam hal positif. Seberat apapun kehidupan di dunia, semuanya hanya sementara. Yang seharusnya kita kejar adalah kehidupan akhirat yang kekal dan abadi.
Referensi:
WeLcome in my bLOg
Jika ditanya hubungan, jawabannya adalah pasti. Mengapa demikian? . Soft skill sendiri merupakan keahlian yang dimiliki seseorang dalam kehidupan sehari-hari terutama di bidangnya ataupun penunjangnya. Namun, seringkali keahlian yang dimilikinya disalahgunakan dengan sesuatu yang dapat merugikan orang lain. Nah, disinilah hubungan antara soft skill dan perilaku korupsi terbentuk.
Umumnya, orang melakukan korupsi ada 3 faktor yaitu : kebutuhan hidup, kesempatan, dan kemampuan. 3 hal tersebut adalah mesin gerak perilaku korupsi akan berjalan. Kebutuhan hidup yang semakin hari semakin menggunung tak pelak membuat otak manusia memutar otak untuk mencari solusi guna mencukupinya. Namun, pada tahap ini, perilaku korupsi kecil kemungkinan terjadi karena rakyat indonesia khususnya lebih memilih untuk berhutang kepada orang. Jika hutangpun tak bisa dilalui, maka jalan pintaspun terpaksa akan dilakukan seperti mencuri dan korupsi. Wajar, mengingat kapasitas yang akan merugi sedikit. Pada tahap kedua, yaitu kesempatan. Kapasitas yang akan merugipun akan semakin meningkat jika sesorang melakukan korupsi mempunyai kesempatan untuk melakukannya. kesempatan akan memudahkan pelaku korupsi melakukan aksinya lebih sering. Akibatnya, orang-orang yang merugi karena ulahnya semakin hari semakin besar dan meluas. Namun, dalam tahap ini, masih ada kelemahan, jika teknik korupsi yang dilakukan hanya mengandalkan kesempatan saja karena seiring waktu juga, orang akan merasa curiga dan mengetahuinya.
Pada hal ketiga, yaitu kemampuan. Mungkin, Gayus Tambunan sosok paling tersohor di media massa saat ini mempunyai 2 hal yang utama diatas, kesempatan dan kemampuan. Dengan kesempatan yang terbuka lebar, kemampuan Gayus yang katanya menyelewengkan pajak menyokong keberhasilannya dalam mengerok uang negara sebanyak-banyaknya. Jumlah yang dibawa pulangpun tak tanggung-tanggung, dan media-media dan Koran-koran menyebutkan sebesar 26 Milyar rupiah.Wao bayangkan, jika seorang Gayus pun bisa mengambil uang sebesar itu, berapa banyak uang negara yang akan terkuras jika banyak Gayus baru bermunculan.
Yang jelas korupsi adalah perbuatan yang tidak terpuji dan sangat bertolak belakang seseorang yang mempunyai softskill dengan seseorang yang melalukan tindakan korupsi. Seseorang yang mempunyai softskill pasti berpikir beribu-ribu kali untuk melakukan tindakan tidak terpuji itu.
Intinya, tulisan ini menginspirasikan kita untuk menggunakan soft skill yang kita miliki dengan sebaik-baiknya dalam hal positif. Seberat apapun kehidupan di dunia, semuanya hanya sementara. Yang seharusnya kita kejar adalah kehidupan akhirat yang kekal dan abadi.
Referensi:
WeLcome in my bLOg
Proposisi dalam Bahasa Indonesia
Kalimat yang tidak dapat dijadikan proposisi yaitu:
1. Kata tanya
Contoh: Apa yang akan kamu lakukan.
2. Kalimat perintah
Contoh: Tolong keluar dari ruangan ini
3. Kalimat yang mengandung makna harapan
Contoh: Semoga hari ini turun hujan.
Kalimat proposisi dibagi menjadi 4 aspek, yaitu berdasarkan bentuk, sifat, kualitas, dan kuantitas.
1. Berdasarkan Bentuk
Ada 2 jenis proposisi berdasarkan bentuk, yaitu:
a. Proposisi tunggal, yaitu proposisi yang terdiri atas 1 subjek dan 1 predikat.
Contoh :
b. Proposisi majemuk, yaitu proposisi yang terdiri dari 2 predikat.
Contoh : Manusia yang hidup sehat harus rajin olahraga dan makan makanan yang bergizi.
2. Berdasarkan Sifat
Ada 2 jenis proposisi berdasarkan sifat, yaitu:
a. Proposisi Kategorial, adalah proposisi yang berhubungan antara subjek dan predikat tidak memerlukan syarat apapun.
b. Proposisi Conditional, adalah proposisi yang hubungan subjek dan predikat memerlukan syarat tertentu.
Contoh : Seandainya para pejabat di Negara ini jujur dan bertanggungjawab maka tidak akan ada korupsi.
Proposisi Conditional dibagi 2 :
1. Hipotesis, adalah proposisi yang memerlukan syarat.
2. Disjunctive, adalah proposisi yang mengandung 2 pilihan.
Contoh : Gusdur itu budayawan atau ulama.
3. Berdasarkan kualitas
Ada 2 jenis proposisi berdasarkan kualitas, yaitu:
a. Proposisi Afirmatif atau positif, adalah proposisi dimana ada kesesuaian antara subjek dan predikat.
Contoh : Semua dosen adalah orang pandai.
b. Proposisi Negatif, adalah tidak ada kesesuaian antara subjek dan predikat.
Contoh : Semua badak adalah gajah.
4. Berdasarkan Kuantitas
Ada 2 jenis proposisi berdasarkan kuantitas, yaitu:
a. Umum atau universal
contoh : Semua makhluk hidup pasti akan mati.
b. Khusus atau spesifik
contoh : Sebagian binatang yang hidup di daratan dapat terbang.
Referensi:
fauziqbal
Kalimat yang tidak dapat dijadikan proposisi yaitu:
1. Kata tanya
Contoh: Apa yang akan kamu lakukan.
2. Kalimat perintah
Contoh: Tolong keluar dari ruangan ini
3. Kalimat yang mengandung makna harapan
Contoh: Semoga hari ini turun hujan.
Kalimat proposisi dibagi menjadi 4 aspek, yaitu berdasarkan bentuk, sifat, kualitas, dan kuantitas.
1. Berdasarkan Bentuk
Ada 2 jenis proposisi berdasarkan bentuk, yaitu:
a. Proposisi tunggal, yaitu proposisi yang terdiri atas 1 subjek dan 1 predikat.
Contoh :
b. Proposisi majemuk, yaitu proposisi yang terdiri dari 2 predikat.
Contoh : Manusia yang hidup sehat harus rajin olahraga dan makan makanan yang bergizi.
2. Berdasarkan Sifat
Ada 2 jenis proposisi berdasarkan sifat, yaitu:
a. Proposisi Kategorial, adalah proposisi yang berhubungan antara subjek dan predikat tidak memerlukan syarat apapun.
b. Proposisi Conditional, adalah proposisi yang hubungan subjek dan predikat memerlukan syarat tertentu.
Contoh : Seandainya para pejabat di Negara ini jujur dan bertanggungjawab maka tidak akan ada korupsi.
Proposisi Conditional dibagi 2 :
1. Hipotesis, adalah proposisi yang memerlukan syarat.
2. Disjunctive, adalah proposisi yang mengandung 2 pilihan.
Contoh : Gusdur itu budayawan atau ulama.
3. Berdasarkan kualitas
Ada 2 jenis proposisi berdasarkan kualitas, yaitu:
a. Proposisi Afirmatif atau positif, adalah proposisi dimana ada kesesuaian antara subjek dan predikat.
Contoh : Semua dosen adalah orang pandai.
b. Proposisi Negatif, adalah tidak ada kesesuaian antara subjek dan predikat.
Contoh : Semua badak adalah gajah.
4. Berdasarkan Kuantitas
Ada 2 jenis proposisi berdasarkan kuantitas, yaitu:
a. Umum atau universal
contoh : Semua makhluk hidup pasti akan mati.
b. Khusus atau spesifik
contoh : Sebagian binatang yang hidup di daratan dapat terbang.
Referensi:
fauziqbal
Kamis, 06 Mei 2010
SEJARAH Pantun Sunda
Pantun Sunda pengertiannya berbeda dengan pantun Melayu. Pantun Melayu semakna dengan "sisindiran" Sunda, yaitu puisi yang terdiri atas dua bagian; sampiran dan isi. Sedangkan pantun Sunda adalah seni pertunjukan. Pantun adalah cerita tutur dalam bentuk sastra Sunda lama yang disajikan secara paparan (prolog), dialog, dan seringkali dinyanyikan. Seni Pantun itu dilakukan oleh seorang juru pantun (tukang pantun) sambil diiringi alat musik kecapi yang dimainkannya sendiri.
Sejarah
Seni pantun merupakan seni yang sudah cukup tua usianya. Disebutkan dalam naskah Siksa Kanda ng Karesyan, yang ditulis pada tahun 1518 Masehi, bahwa pantun telah digunakan sejak zaman Langgalarang, Banyakcatra, dan Siliwangi. Ceritanya pun berkisar tentang cerita-cerita Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi, Haturwangi dan lain-lain yang disajikan oleh prepantun (tukang pantun). Pantun terdapat pula pada naskah kuno yang dituturkan oleh Ki Buyut Rambeng, yakni Pantun Bogor. Dalam perkembangannya, cerita-cerita pantun yang dianggap bernilai tinggi itu terus bertambah, seperti cerita Lutung Kasarung, Ciung Wanara, Mundinglaya Dikusumah, Dengdeng pati Jayaperang, Ratu Bungsu Kamajaya, Sumur Bandung, Demung Kalagan dll. Masyarakat Kanekes yang hidup dalam budaya Sunda Kuna sangat akrab dengan seni Pantun. Seni ini melekat sebagai bagian dari ritual mereka. Adapun lakon-lakon suci Pantun Kanekes yang disajikan secara ritual seperti Langgasari Kolot, Langgasari Ngora dan Lutung Kasarung.
Seni Pantun yang cukup tua usianya melahirkan beberapa tukang pantun pada setiap zamannya. Di Cianjur misalnya, dikenal nama R. Aria Cikondang (abad ke-17), Aong Jaya Lahiman dan Jayawireja (abad ke-19). Di Bandung terkenal Uce, juru pantun kabupaten Bandung (awal abad ke-20) dan Pantun Beton "Wikatmana" (pertengahan abad ke-20); dan di Bogor terkenal juru pantun Ki Buyut Rombeng.
Alat musik yang dipakai mengiringi seni pantun adalah kacapi. Pada mulanya kacapi tersebut sangat sederhana seperti yang terdapat di Baduy, yaitu kacapi kecil berdawai 7 dari kawat. Selanjutnya, sejalan dengan tumbuhnya seni Cianjuran, kacapi tersebut diganti dengan kacapi gelung (tembang), dan akhirnya menggunakan kacapi siter (Jawa). Adapun tangga nada (laras) yang digunakan dalam iringan kacapi tersebut adalah pelog, namun selanjutnya banyak yang menggunakan laras salendro.
Referensi :
Wikipedia bahasa Indonesia
ensiklopedia bebas
Pantun Sunda pengertiannya berbeda dengan pantun Melayu. Pantun Melayu semakna dengan "sisindiran" Sunda, yaitu puisi yang terdiri atas dua bagian; sampiran dan isi. Sedangkan pantun Sunda adalah seni pertunjukan. Pantun adalah cerita tutur dalam bentuk sastra Sunda lama yang disajikan secara paparan (prolog), dialog, dan seringkali dinyanyikan. Seni Pantun itu dilakukan oleh seorang juru pantun (tukang pantun) sambil diiringi alat musik kecapi yang dimainkannya sendiri.
Sejarah
Seni pantun merupakan seni yang sudah cukup tua usianya. Disebutkan dalam naskah Siksa Kanda ng Karesyan, yang ditulis pada tahun 1518 Masehi, bahwa pantun telah digunakan sejak zaman Langgalarang, Banyakcatra, dan Siliwangi. Ceritanya pun berkisar tentang cerita-cerita Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi, Haturwangi dan lain-lain yang disajikan oleh prepantun (tukang pantun). Pantun terdapat pula pada naskah kuno yang dituturkan oleh Ki Buyut Rambeng, yakni Pantun Bogor. Dalam perkembangannya, cerita-cerita pantun yang dianggap bernilai tinggi itu terus bertambah, seperti cerita Lutung Kasarung, Ciung Wanara, Mundinglaya Dikusumah, Dengdeng pati Jayaperang, Ratu Bungsu Kamajaya, Sumur Bandung, Demung Kalagan dll. Masyarakat Kanekes yang hidup dalam budaya Sunda Kuna sangat akrab dengan seni Pantun. Seni ini melekat sebagai bagian dari ritual mereka. Adapun lakon-lakon suci Pantun Kanekes yang disajikan secara ritual seperti Langgasari Kolot, Langgasari Ngora dan Lutung Kasarung.
Seni Pantun yang cukup tua usianya melahirkan beberapa tukang pantun pada setiap zamannya. Di Cianjur misalnya, dikenal nama R. Aria Cikondang (abad ke-17), Aong Jaya Lahiman dan Jayawireja (abad ke-19). Di Bandung terkenal Uce, juru pantun kabupaten Bandung (awal abad ke-20) dan Pantun Beton "Wikatmana" (pertengahan abad ke-20); dan di Bogor terkenal juru pantun Ki Buyut Rombeng.
Alat musik yang dipakai mengiringi seni pantun adalah kacapi. Pada mulanya kacapi tersebut sangat sederhana seperti yang terdapat di Baduy, yaitu kacapi kecil berdawai 7 dari kawat. Selanjutnya, sejalan dengan tumbuhnya seni Cianjuran, kacapi tersebut diganti dengan kacapi gelung (tembang), dan akhirnya menggunakan kacapi siter (Jawa). Adapun tangga nada (laras) yang digunakan dalam iringan kacapi tersebut adalah pelog, namun selanjutnya banyak yang menggunakan laras salendro.
Referensi :
Wikipedia bahasa Indonesia
ensiklopedia bebas
Ketegangan yang Berbuah Tawa
“Yai, orang mati pas ditanya malaikat itu kita bisa ndengerin tidak?”, tanya santri.
“Ya nggak bisa, kan dikubur”, jawab Kyai sambil lalu.
“Kan kita bisa nempelin telinga di tanah atau dipasangi mic. Bisa dengar gedobrakan siksa kalau nggak bisa njawab”.
“Nggak. Alamnya beda. Mereka di akhirat”
“Berarti akhirat itu sudah ada?”
“Hm”
“Neraka juga sudah ada?”
“Hh”
“Kan belum kiamat?”
“Biar”
“Kosong pa isi?”
“Isi”
“Isinya siapa?”
“Hh”
“Siapa e?”
“Isinya ya orang-orang kayak kamu itu, yang kalau tanya nggak mutu!”
***
Dialog di atas tidak pernah terjadi di pesantren. Di dunia pesantren Kyai adalah sosok sentral kharismatik, bijak, berilmu, dan sangat dihormati. Sementara santri adalah murid yang terhadap kyainya bukan hanya berkedudukan sebagai pencari ilmu tetapi juga sebagai pengharap berkah.
Santri – kata Dawam Rahardjo dalam bukunya Pesantren dan Pembaharuan– adalah siswa yang tinggal di pesantren guna menyerahkan diri untuk memperoleh kerelaan dari kyainya. Gus Dur mengatakan kerelaan inilah yang dimaksud dengan barakah, berkah. Di hati santri kyai hadir sebagai sosok agung, beraura suci, teduh, wibawa, dan sekaligus nyaris tak tersentuh.
Dengan definisi ini berarti status santri adalah medium untuk menciptakan ketundukan pada tata nilai dalam pesantren kepada kyai yang merupakan hirarki kekuasaan tertinggi. Inilah tawadu-positioning yang tidak mudah dijelaskan dan akibatnya sering disalahpahami orang sebagai kultus. Posisi diametral kyai-santri ini lalu memunculkan tensionalitas (ketegangan), keengganan, dan bahkan ‘keterhimpitan’, yang tentu saja dialog seperti di atas jelas tidak memiliki ruang di dalamnya.
Namun Tuhan tidak membiarkan umatnya tidak nyaman di situasi yang sebenarnya baik-baik saja itu. Diberinya imajinasi. Satu anugerah dan bekal yang memungkinkan orang survive ketika terdesak, kreatif ketika terhimpit, dan mengubah ketegangan relasi kyai-santri seperti di atas menjadi kerenyahan, sekalipun sebatas realitas virtual. Dan apa yang bisa dibayangkan jika ternyata benar-benar terjadi dalam keseharian pesantren? Tentu kelucuan yang mengundang tawa.
“Kita tertawa”, kata filsuf Jerman Schopenhaeur, “bila secara tiba-tiba kita menyadari ketidaksesuaian antara konsep dengan realitas yang sebenarnya”. Menurut Teori Bisosiasi yang dirumuskan Arthur Koestler tapi berasal dari filsuf-filsuf besar seperti Blaice Pascal, Immanuel Kant, Herbert Spencer, dan Schopenhaeur ini, humor timbul karena orang menemukan hal-hal yang tidak diduga, atau kalimat, juga kata, yang menimbulkan dua macam asosiasi. Yang pertama disebut belokan mendadak (unexpected turn), dan yang kedua asosiasi ganda (puns).
Beberapa humor pesantren juga bisa dijelaskan dengan Teori Pelepasan Inhibisi. Istilah inhibisi sendiri dari Sigmund Freud. Kita, kata Freud, banyak menekan ke alam bawah sadar kita pengalaman tidak enak atau keinginan yang tidak bisa kita wujudkan (yang secara sosial tidak bisa diterima, menurut istilah psikologi). Dorongan yang kita tekan ke bawah sadar itu lalu bergabung dengan kesenangan bermain dari masa kanak-kanak kita. Bila dorongan ini kita lepaskan dalam bentuk yang bisa diterima, kita melepaskan inhibisi. Kita merasa senang karena lepas dari sesuatu yang menghimpit kita. Kita melepaskan diri dari ketegangan. Suasana kaku, kikuk, tegang antara kyai-santri dilepas dan berubah akrab bahkan lucu. Bersama Freud, yang juga menganut teori ini adalah filsuf Charles Bernard Renouvier, Auguste Penjon, dan John Dewey.
Teori lainya adalah Superioritas. Menurut Plato orang tertawa bila menyaksikan sesuatu yang janggal. Orang juga geli melihat orang lain keliru, atau cacat, kata Aristoteles. Sebagai subyek, kita tertawa karena merasa punya kelebihan (superioritas), sedang obyek tertawa kita sifatnya rendah ‘menggelikan’. “Ketika tertawa”, kata Henry Bergson, “kita ternyata diam-diam bermaksud merendahkan”.
Teori ini menjelaskan tradisi guyon gasakan antar santri yang terkadang sangat ‘kejam’ karena boleh memperolok cacat atau kekurangan apapun lawannya. Seolah dilombakan seperti debat terbuka, guyon begini ditonton oleh banyak santri, dan baru berhenti setelah ada yang kalah, yaitu yang marah atau jengkel lantaran tidak tahan diolok. Konon ini salah satu latihan alami sebelum terjun ke masyarakat.
***
Menurut Darminto Sudarmo, Redaktur Majalah HUMOR, humor terjadi karena dua sebab: pertama, tak sengaja: kedua, disengaja. Humor tak sengaja berkait semua kejadian faktual lucu yang berkaitan dengan tokoh atau peristiwa. Humor sengaja, sebaliknya adalah hasil kreasi manusia. Bisa digolongkan sebagai buah karsa, karya dan cipta umat manusia.
Pertama, guyon parikena. Isi leluconnya bersifat nakal, agak menyindir. Tapi tidak tajam-tajam amat. Bahkan cenderung sopan. Dilakukan oleh bawahan kepada atasan atau orang yang lebih tua atau yang lebih dihormati. Atau kepada pihak lain yang belum akrab benar. Santri melakukan ini kepada santri lain, santri baru, paling banter pada kakak santri yang jadi pengurus. Tidak pernah pada guru apalagi Kyai.
Kedua, satire dan sinisme. Sama-sama menyindir atau mengkritik tapi muatan ejekannya lebih dominan. Bila tak pandai-pandai memainkannya, jurus ini bisa sangat membebani dan sangat tidak mengenakkan. Kecenderungannya memandang rendah pihak lain. Lelucon ini lebih banyak digunakan pada situasi konfrontatif. Targetnya, membuat lawan atau pihak lain, mati kutu. Bahkan, cemar! Ini khusus antar santri. Tidak ada yang berani mencoba ke Kyai.
Ketiga, pelesetan. Orang Barat menyebutnya imitation and parody. Di Indonesia, seringkali juga disebut parodi. Isinya memelesetkan segala sesuatu yang telah mapan atau populer. Ia menjadi semacam alat eskapisme dari kesumpekan keadaan. Terobosannya lewat pintu tak terduga dan ini cukup mengundang surprise. Istilah seperti ‘ulil albab’ diartikan ahli lobi, ‘ahli hisab’ jadi perokok, dan sebagainya.
Keempat, slapstick. Orang terjengkang. Kepala dipukul pakai tongkat. Pendek kata bernuansa fisik. Lelucon ini cukup efektif untuk memancing tawa. Beberapa film kartun untuk konsumsi anak-anak juga banyak menampilkan lelucon model ini. Guru ngaji galak biasa jadi bahan lelucon ini.
Kelima, olah logika. Lelucon bergaya analisis. Sering disinggung oleh Arthur Koestler dalam teori bisosiatifnya. Lelucon ini banyak digemari oleh masyarakat tertentu, terutama dari kalangan terdidik.
“Kita harus mewaspadai bahaya provokasi dan provokator!” teriak santri dalam sebuah latihan pidato. “Apa bedanya?” Tanya Kyai. “Provokasi itu tingkat propinsi, Yai. Kalau provokator itu tingkat pusat.”
Keenam, superioritas-interioritas. Lelucon yang muncul karena melihat cacat, kesalahan, kebodohan, pihak lain.
Perhatikan dialog dua orang tuli berikut.
“Darimana, Kang? Dari mancing ya?”
“Nggak. Dari mancing kok”
“Oalah, saya kira dari mancing”
Ketujuh, kelam. Sering juga disebut black humor atau sick joke. Isinya soal malapetaka. Kengerian. Lelucon tentang orang yang dipenggal kepalanya, bunuh diri, pemerkosaan dan sejenisnya. Pendek kata berisi tentang segala sadisme dan kebrutalan.
Kedelapan, seks. Bukan seks dalam arti gender atau jenis kelamin, tetapi seks yang mengandung makna menjurus ke porno-pornoan. Atau bahkan, full porno. Karena sifatnya yang ringan tak perlu mikir lelucon ini efektif mengundang tawa.
Kesembilan, apologisme. Ini bukan untuk melucu, tetapi justru untuk berlindung di balik lelucon. Semacam senjata. Upaya pembenaran yang tergolong “pengecut” karena ketidakberdayaan mempertanggungjawabkan lontaran, pernyataan atau perbuatannya yang ternyata tak memiliki dasar/argumen. Untuk menetralisasikan, karena biasanya enggan mengakui kesalahan, lalu berkilah, “Ah, hanya guyon kok.”
***
Humor adalah energi budaya yang kandungan pengertiannya amat rumit. Humor yang muncul karena persinggungan budaya, bahasa, bahkan simbol-simbol religi; humor karena kenaifan atau kejujuran karena salah perhitungan dan lain-lain, adalah fakta yang membuktikan bahwa efek kelucuan bisa dicapai dengan banyak sekali jurus. Tidak peduli itu terjadi di kantor, sawah, rumah, pasar, bahkan pesantren dan seminari.
Referensi :
Farid Mustofa
Rejodani
“Yai, orang mati pas ditanya malaikat itu kita bisa ndengerin tidak?”, tanya santri.
“Ya nggak bisa, kan dikubur”, jawab Kyai sambil lalu.
“Kan kita bisa nempelin telinga di tanah atau dipasangi mic. Bisa dengar gedobrakan siksa kalau nggak bisa njawab”.
“Nggak. Alamnya beda. Mereka di akhirat”
“Berarti akhirat itu sudah ada?”
“Hm”
“Neraka juga sudah ada?”
“Hh”
“Kan belum kiamat?”
“Biar”
“Kosong pa isi?”
“Isi”
“Isinya siapa?”
“Hh”
“Siapa e?”
“Isinya ya orang-orang kayak kamu itu, yang kalau tanya nggak mutu!”
***
Dialog di atas tidak pernah terjadi di pesantren. Di dunia pesantren Kyai adalah sosok sentral kharismatik, bijak, berilmu, dan sangat dihormati. Sementara santri adalah murid yang terhadap kyainya bukan hanya berkedudukan sebagai pencari ilmu tetapi juga sebagai pengharap berkah.
Santri – kata Dawam Rahardjo dalam bukunya Pesantren dan Pembaharuan– adalah siswa yang tinggal di pesantren guna menyerahkan diri untuk memperoleh kerelaan dari kyainya. Gus Dur mengatakan kerelaan inilah yang dimaksud dengan barakah, berkah. Di hati santri kyai hadir sebagai sosok agung, beraura suci, teduh, wibawa, dan sekaligus nyaris tak tersentuh.
Dengan definisi ini berarti status santri adalah medium untuk menciptakan ketundukan pada tata nilai dalam pesantren kepada kyai yang merupakan hirarki kekuasaan tertinggi. Inilah tawadu-positioning yang tidak mudah dijelaskan dan akibatnya sering disalahpahami orang sebagai kultus. Posisi diametral kyai-santri ini lalu memunculkan tensionalitas (ketegangan), keengganan, dan bahkan ‘keterhimpitan’, yang tentu saja dialog seperti di atas jelas tidak memiliki ruang di dalamnya.
Namun Tuhan tidak membiarkan umatnya tidak nyaman di situasi yang sebenarnya baik-baik saja itu. Diberinya imajinasi. Satu anugerah dan bekal yang memungkinkan orang survive ketika terdesak, kreatif ketika terhimpit, dan mengubah ketegangan relasi kyai-santri seperti di atas menjadi kerenyahan, sekalipun sebatas realitas virtual. Dan apa yang bisa dibayangkan jika ternyata benar-benar terjadi dalam keseharian pesantren? Tentu kelucuan yang mengundang tawa.
“Kita tertawa”, kata filsuf Jerman Schopenhaeur, “bila secara tiba-tiba kita menyadari ketidaksesuaian antara konsep dengan realitas yang sebenarnya”. Menurut Teori Bisosiasi yang dirumuskan Arthur Koestler tapi berasal dari filsuf-filsuf besar seperti Blaice Pascal, Immanuel Kant, Herbert Spencer, dan Schopenhaeur ini, humor timbul karena orang menemukan hal-hal yang tidak diduga, atau kalimat, juga kata, yang menimbulkan dua macam asosiasi. Yang pertama disebut belokan mendadak (unexpected turn), dan yang kedua asosiasi ganda (puns).
Beberapa humor pesantren juga bisa dijelaskan dengan Teori Pelepasan Inhibisi. Istilah inhibisi sendiri dari Sigmund Freud. Kita, kata Freud, banyak menekan ke alam bawah sadar kita pengalaman tidak enak atau keinginan yang tidak bisa kita wujudkan (yang secara sosial tidak bisa diterima, menurut istilah psikologi). Dorongan yang kita tekan ke bawah sadar itu lalu bergabung dengan kesenangan bermain dari masa kanak-kanak kita. Bila dorongan ini kita lepaskan dalam bentuk yang bisa diterima, kita melepaskan inhibisi. Kita merasa senang karena lepas dari sesuatu yang menghimpit kita. Kita melepaskan diri dari ketegangan. Suasana kaku, kikuk, tegang antara kyai-santri dilepas dan berubah akrab bahkan lucu. Bersama Freud, yang juga menganut teori ini adalah filsuf Charles Bernard Renouvier, Auguste Penjon, dan John Dewey.
Teori lainya adalah Superioritas. Menurut Plato orang tertawa bila menyaksikan sesuatu yang janggal. Orang juga geli melihat orang lain keliru, atau cacat, kata Aristoteles. Sebagai subyek, kita tertawa karena merasa punya kelebihan (superioritas), sedang obyek tertawa kita sifatnya rendah ‘menggelikan’. “Ketika tertawa”, kata Henry Bergson, “kita ternyata diam-diam bermaksud merendahkan”.
Teori ini menjelaskan tradisi guyon gasakan antar santri yang terkadang sangat ‘kejam’ karena boleh memperolok cacat atau kekurangan apapun lawannya. Seolah dilombakan seperti debat terbuka, guyon begini ditonton oleh banyak santri, dan baru berhenti setelah ada yang kalah, yaitu yang marah atau jengkel lantaran tidak tahan diolok. Konon ini salah satu latihan alami sebelum terjun ke masyarakat.
***
Menurut Darminto Sudarmo, Redaktur Majalah HUMOR, humor terjadi karena dua sebab: pertama, tak sengaja: kedua, disengaja. Humor tak sengaja berkait semua kejadian faktual lucu yang berkaitan dengan tokoh atau peristiwa. Humor sengaja, sebaliknya adalah hasil kreasi manusia. Bisa digolongkan sebagai buah karsa, karya dan cipta umat manusia.
Pertama, guyon parikena. Isi leluconnya bersifat nakal, agak menyindir. Tapi tidak tajam-tajam amat. Bahkan cenderung sopan. Dilakukan oleh bawahan kepada atasan atau orang yang lebih tua atau yang lebih dihormati. Atau kepada pihak lain yang belum akrab benar. Santri melakukan ini kepada santri lain, santri baru, paling banter pada kakak santri yang jadi pengurus. Tidak pernah pada guru apalagi Kyai.
Kedua, satire dan sinisme. Sama-sama menyindir atau mengkritik tapi muatan ejekannya lebih dominan. Bila tak pandai-pandai memainkannya, jurus ini bisa sangat membebani dan sangat tidak mengenakkan. Kecenderungannya memandang rendah pihak lain. Lelucon ini lebih banyak digunakan pada situasi konfrontatif. Targetnya, membuat lawan atau pihak lain, mati kutu. Bahkan, cemar! Ini khusus antar santri. Tidak ada yang berani mencoba ke Kyai.
Ketiga, pelesetan. Orang Barat menyebutnya imitation and parody. Di Indonesia, seringkali juga disebut parodi. Isinya memelesetkan segala sesuatu yang telah mapan atau populer. Ia menjadi semacam alat eskapisme dari kesumpekan keadaan. Terobosannya lewat pintu tak terduga dan ini cukup mengundang surprise. Istilah seperti ‘ulil albab’ diartikan ahli lobi, ‘ahli hisab’ jadi perokok, dan sebagainya.
Keempat, slapstick. Orang terjengkang. Kepala dipukul pakai tongkat. Pendek kata bernuansa fisik. Lelucon ini cukup efektif untuk memancing tawa. Beberapa film kartun untuk konsumsi anak-anak juga banyak menampilkan lelucon model ini. Guru ngaji galak biasa jadi bahan lelucon ini.
Kelima, olah logika. Lelucon bergaya analisis. Sering disinggung oleh Arthur Koestler dalam teori bisosiatifnya. Lelucon ini banyak digemari oleh masyarakat tertentu, terutama dari kalangan terdidik.
“Kita harus mewaspadai bahaya provokasi dan provokator!” teriak santri dalam sebuah latihan pidato. “Apa bedanya?” Tanya Kyai. “Provokasi itu tingkat propinsi, Yai. Kalau provokator itu tingkat pusat.”
Keenam, superioritas-interioritas. Lelucon yang muncul karena melihat cacat, kesalahan, kebodohan, pihak lain.
Perhatikan dialog dua orang tuli berikut.
“Darimana, Kang? Dari mancing ya?”
“Nggak. Dari mancing kok”
“Oalah, saya kira dari mancing”
Ketujuh, kelam. Sering juga disebut black humor atau sick joke. Isinya soal malapetaka. Kengerian. Lelucon tentang orang yang dipenggal kepalanya, bunuh diri, pemerkosaan dan sejenisnya. Pendek kata berisi tentang segala sadisme dan kebrutalan.
Kedelapan, seks. Bukan seks dalam arti gender atau jenis kelamin, tetapi seks yang mengandung makna menjurus ke porno-pornoan. Atau bahkan, full porno. Karena sifatnya yang ringan tak perlu mikir lelucon ini efektif mengundang tawa.
Kesembilan, apologisme. Ini bukan untuk melucu, tetapi justru untuk berlindung di balik lelucon. Semacam senjata. Upaya pembenaran yang tergolong “pengecut” karena ketidakberdayaan mempertanggungjawabkan lontaran, pernyataan atau perbuatannya yang ternyata tak memiliki dasar/argumen. Untuk menetralisasikan, karena biasanya enggan mengakui kesalahan, lalu berkilah, “Ah, hanya guyon kok.”
***
Humor adalah energi budaya yang kandungan pengertiannya amat rumit. Humor yang muncul karena persinggungan budaya, bahasa, bahkan simbol-simbol religi; humor karena kenaifan atau kejujuran karena salah perhitungan dan lain-lain, adalah fakta yang membuktikan bahwa efek kelucuan bisa dicapai dengan banyak sekali jurus. Tidak peduli itu terjadi di kantor, sawah, rumah, pasar, bahkan pesantren dan seminari.
Referensi :
Farid Mustofa
Rejodani
Sejarah "singkat" Film Pendek
Film pendek… seperti yang kita tahu ini adalah salah satu bentuk film paling simple tapi juga paling kompleks. Film pendek pada awal berkembangnya sempat dipopulerkan oleh komedian macam Charlie Chaplin.
Pada tahun 30an, film pendek sempat mengalami kisruh. Perusahaan film besar yang memproduksi film pendek memanfaatkannya untuk tujuan komersil. Perusahaan film yang memiliki jaringan bioskop sendiri seringkali menjual film pendek ini pada bioskop-bioskop lain dan film tersebut dijual dalam satu paket yang mengharuskan bioskop-bioskop tersebut juga menayangkan feature yang mengkomersilkan nama perusahaan tersebut. Pada akhirnya kualitas film pendek pun jadi merosot.
Praktek ini disebut block booking dan pada akhirnya dinyatakan illegal oleh US Supreme Court. Dengan dikeluarkannya kebijakan tersebut, film pendek kembali populer. Sejak saat itu, film pendek adalah sepenuhnya lahan milik para sineas independent. Produsen film besar juga masih memproduksi film pendek, namun hanya untuk special project dan bukan untuk tujuan komersil.
Pada tahun 50an, film pendek mulai merasuki pertelevisian. Bentuk film pendek yang populer ditayangkan di televisi waktu itu (bahkan sampai sekarang) adalah kartun yang menampilkan karakter unik. Pada akhir 60an, film pendek di layar lebar dinyatakan menghilang dari layar lebar.
Pada tahun 1980, definisi durasi dari film pendek berubah menjadi 40-80 menit. Mendekati film durasi normal. Yang tetap membedakan film pendek adalah topiknya yang rumit. Kini banyak dbuat festival sebagai ajang ekspresi para pembuat film pendek. Bersamaan dengan menjamurnya festival film pendek, popularitas film pendek juga meroket dan menuai antusiasme para sineas amatir.
Biaya rendah yang dibutuhkan untuk membuat film pendek adalah alasan utama untuk memilih bentuk film ini sebagai pembelajaran bagi pemula, namun bukan berarti semua film pendek adalah kacangan dan tidak berkualitas. [rad]
Referensi :
www.google.com
Film pendek… seperti yang kita tahu ini adalah salah satu bentuk film paling simple tapi juga paling kompleks. Film pendek pada awal berkembangnya sempat dipopulerkan oleh komedian macam Charlie Chaplin.
Pada tahun 30an, film pendek sempat mengalami kisruh. Perusahaan film besar yang memproduksi film pendek memanfaatkannya untuk tujuan komersil. Perusahaan film yang memiliki jaringan bioskop sendiri seringkali menjual film pendek ini pada bioskop-bioskop lain dan film tersebut dijual dalam satu paket yang mengharuskan bioskop-bioskop tersebut juga menayangkan feature yang mengkomersilkan nama perusahaan tersebut. Pada akhirnya kualitas film pendek pun jadi merosot.
Praktek ini disebut block booking dan pada akhirnya dinyatakan illegal oleh US Supreme Court. Dengan dikeluarkannya kebijakan tersebut, film pendek kembali populer. Sejak saat itu, film pendek adalah sepenuhnya lahan milik para sineas independent. Produsen film besar juga masih memproduksi film pendek, namun hanya untuk special project dan bukan untuk tujuan komersil.
Pada tahun 50an, film pendek mulai merasuki pertelevisian. Bentuk film pendek yang populer ditayangkan di televisi waktu itu (bahkan sampai sekarang) adalah kartun yang menampilkan karakter unik. Pada akhir 60an, film pendek di layar lebar dinyatakan menghilang dari layar lebar.
Pada tahun 1980, definisi durasi dari film pendek berubah menjadi 40-80 menit. Mendekati film durasi normal. Yang tetap membedakan film pendek adalah topiknya yang rumit. Kini banyak dbuat festival sebagai ajang ekspresi para pembuat film pendek. Bersamaan dengan menjamurnya festival film pendek, popularitas film pendek juga meroket dan menuai antusiasme para sineas amatir.
Biaya rendah yang dibutuhkan untuk membuat film pendek adalah alasan utama untuk memilih bentuk film ini sebagai pembelajaran bagi pemula, namun bukan berarti semua film pendek adalah kacangan dan tidak berkualitas. [rad]
Referensi :
www.google.com
Seluk Beluk Drama di Indonesia
Istilah drama dan teater seyogianya dibedakan artinya. Drama dimaksudkan sebagai karya sastra yang dirancang untuk dipentaskan di panggung oleh para aktor di pentas, sedangkan teater adalah istilah lain untuk drama dalam pengertian yang lebih luas, termasuk pentas, penonton, dan tempat lakon itu dipentaskan. Di samping itu salah satu unsur penting dalam drama adalah gerak dan dialog. Lewat dialoglah, konflik, emosi, pemikiran dan karakter hidup dan kehidupan manusia terhidang di panggung. Dengan demikian hakikat drama sebenarnya adalah gambaran konflik kehidupan manusia di panggung lewat gerak.
Drama Remaja
Apabila dilakukan dengan benar, pembelajaran sastra memiliki empat manfaat bagi para siswa, yaitu: membantu keterampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan rasa, serta menunjang pembentukan watak. Oleh karena drama, termasuk satu di antara tiga jenis pokok karya sastra, maka mempelajari drama pun dapat membantu para siswa terampil berbahasa, meningkatkan pengetahuan budayanya, mengembangkan cipta dan karsa, serta dapat menunjang pembentukan watak para siswa.Dalam memilih bahan pembelajaran drama yang akan disajikan perlu dipertimbangkan dari sudut bahasa, kematangan jiwa (psikologi), dan latar belakang kebudayaan para siswa, di samping itu perlu pula diklasifikasikan berdasarkan tingkat kesukaran dan kriteria-kriteria tertentu lainnya, seperti: berapa banyak teks drama yang tersedia di perpustakaan sekolahnya, kurikulum yang harus diikuti, dan persyaratan bahan yang harus diberikan agar dapat menempuh tes hasil belajar akhir tahun.
Pembelajaran Drama
Ada banyak strategi apresiasi drama sebagai karya sastra. Strategi Strata menggunakan tiga tahapan, yaitu: tahap penjelajahan, tahap interpretasi, dan tahap re-kreasi. Tahap penjelajahan dimaksudkan sebagai tahapan di mana guru memberikan rangsangan kepada para siswa agar mau membaca teks drama dan memahaminya. Tahap interpretasi adalah tahapan mendiskusikan hasil bacaan dengan mendiskusikannya dalam kelompok dengan panduan pertanyaan dari guru. Tahap re-kreasi adalah tahapan sejauh mana para siswa memahami teks drama sehingga mereka dapat mengkreasikan kembali hasil pemahamannya.Strategi Analisis terhadap teks drama dilakukan dalam tiga tahapan. Tahapan pertama membaca dan mengemukakan kesan awal terhadap bacaannya. Tahap kedua menganalisis unsur pembangun teks drama. Dan tahap ketiga adalah tahap memberikan pendapat akhir yang merupakan perpaduan antara respons subjektif dengan analisis objektif.Tujuan penting pembelajaran drama adalah memahami bagaimana tokoh-tokoh dalam drama dipentaskan. Dalam pementasan diperlukan pemahaman perbedaan bentuk dan gaya teks drama, serta berbagai macam aturan dalam bermain drama. Cara yang ditempuh, pertama melakukan pembacaan teks drama, berlatih gerak dalam membawakan peran, dan berlatih gerak sambil mengucapkan kata-kata.
Asal-usul Drama di Indonesia
Seperti yang berkembang di dunia pada umumnya, di Indonesia pun awalnya ada dua jenis teater, yaitu teater klasik yang lahir dan berkembang dengan ketat di lingkungan istana, dan teater rakyat. Jenis teater klasik lebih terbatas, dan berawal dari teater boneka dan wayang orang. Teater boneka sudah dikenal sejak zaman prasejarah Indonesia (400 Masehi), sedangkan teater rakyat tak dikenal kapan munculnya. Teater klasik sarat dengan aturan-aturan baku, membutuhkan persiapan dan latihan suntuk, membutuhkan referensi pengetahuan, dan nilai artistik sebagai ukuran utamanya.
Teater rakyat lahir dari spontanitas kehidupan masyarakat pedesaan, jauh lebih longgar aturannya dan cukup banyak jenisnya. Teater rakyat diawali dengan teater tutur. Pertunjukannya berbentuk cerita yang dibacakan, dinyanyikan dengan tabuhan sederhana, dan dipertunjukkan di tempat yang sederhana pula. Teater tutur berkembang menjadi teater rakyat dan terdapat di seluruh Indonesia sejak Aceh sampai Irian. Meskipun jenis teater rakyat cukup banyak, umumnya cara pementasannya sama. Sederhana, perlengkapannya disesuaikan dengan tempat bermainnya, terjadi kontak antara pemain dan penonton, serta diawali dengan tabuhan dan tarian sederhana. Dalam pementasannya diselingi dagelan secara spontan yang berisi kritikan dan sindiran. Waktu pementasannya tergantung respons penonton, bisa empat jam atau sampai semalam suntuk
Perkembangan Drama di Indonesia
Sejarah perkembangan drama di Indonesia dipilah menjadi sejarah perkembangan penulisan drama dan sejarah perkembangan teater di Indonesia. Sejarah perkembangan penulisan drama meliputi:
(1) Periode Drama Melayu-Rendah
(2) Periode Drama Pujangga Baru,
(3) Periode Drama Zaman Jepang,
(4) Periode Drama Sesudah Kemerdekaan, dan
(5) Periode Drama Mutakhir.
Dalam Periode Melayu-Rendah penulis lakonnya didominasi oleh pengarang drama Belanda peranakan dan Tionghoa peranakan. Dalam Periode Drama Pujangga Baru lahirlah Bebasari karya Roestam Effendi sebagai lakon simbolis yang pertama kali ditulis oleh pengarang Indonesia. Dalam Periode Drama Zaman Jepang setiap pementasan drama harus disertai naskah lengkap untuk disensor terlebih dulu sebelum dipentaskan. Dengan adanya sensor ini, di satu pihak dapat menghambat kreativitas, tetapi di pihak lain justru memacu munculnya naskah drama. Pada Periode Drama Sesudah Kemerdekaan naskah-naskah drama yang dihasilkan sudah lebih baik dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sudah meninggalkan gaya Pujangga Baru. Pada saat itu penulis drama yang produktif dan berkualitas baik adalah Utuy Tatang Sontani, Motinggo Boesye dan Rendra. Pada Periode Mutakhir peran TIM dan DKJ menjadi sangat menonjol. Terjadi pembaruan dalam struktur drama. Pada umumnya tidak memiliki cerita, antiplot, nonlinear, tokoh-tokohnya tidak jelas identitasnya, dan bersifat nontematis. Penulis-penulis dramanya yang terkenal antara lain Rendra, Arifin C. Noer, Putu Wijaya, dan Riantiarno.
Perkembangan teater di Indonesia dibagi ke dalam: (1) Masa Perintisan Teater Modern, (2) Masa Kebangkitan Teater Modern, (3) Masa Perkembangan Teater Modern, dan (4) Masa Teater Mutakhir. Masa perintisan diawali dengan munculnya Komedi Stamboel. Masa kebangkitan muncul teater Dardanella yang terpengaruh oleh Barat. Masa perkembangan ditengarai dengan hadirnya Sandiwara Maya, dan setelah kemerdekaan ditandai dengan lahirnya ATNI dan ASDRAFI. Dalam masa perkembangan teater mutakhir ditandai dengan berkiprahnya 8 nama besar teater yang mendominasi zaman emas pertama dan kedua, yaitu Bengkel Teater, Teater Kecil, Teater Populer, Studi klub Teater Bandung, Teater Mandiri, Teater Koma, Teater Saja, dan Teater Lembaga.
Referensi :
Buku Drama Karya B. Rahmanto
Pakde sofa
Istilah drama dan teater seyogianya dibedakan artinya. Drama dimaksudkan sebagai karya sastra yang dirancang untuk dipentaskan di panggung oleh para aktor di pentas, sedangkan teater adalah istilah lain untuk drama dalam pengertian yang lebih luas, termasuk pentas, penonton, dan tempat lakon itu dipentaskan. Di samping itu salah satu unsur penting dalam drama adalah gerak dan dialog. Lewat dialoglah, konflik, emosi, pemikiran dan karakter hidup dan kehidupan manusia terhidang di panggung. Dengan demikian hakikat drama sebenarnya adalah gambaran konflik kehidupan manusia di panggung lewat gerak.
Drama Remaja
Apabila dilakukan dengan benar, pembelajaran sastra memiliki empat manfaat bagi para siswa, yaitu: membantu keterampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan rasa, serta menunjang pembentukan watak. Oleh karena drama, termasuk satu di antara tiga jenis pokok karya sastra, maka mempelajari drama pun dapat membantu para siswa terampil berbahasa, meningkatkan pengetahuan budayanya, mengembangkan cipta dan karsa, serta dapat menunjang pembentukan watak para siswa.Dalam memilih bahan pembelajaran drama yang akan disajikan perlu dipertimbangkan dari sudut bahasa, kematangan jiwa (psikologi), dan latar belakang kebudayaan para siswa, di samping itu perlu pula diklasifikasikan berdasarkan tingkat kesukaran dan kriteria-kriteria tertentu lainnya, seperti: berapa banyak teks drama yang tersedia di perpustakaan sekolahnya, kurikulum yang harus diikuti, dan persyaratan bahan yang harus diberikan agar dapat menempuh tes hasil belajar akhir tahun.
Pembelajaran Drama
Ada banyak strategi apresiasi drama sebagai karya sastra. Strategi Strata menggunakan tiga tahapan, yaitu: tahap penjelajahan, tahap interpretasi, dan tahap re-kreasi. Tahap penjelajahan dimaksudkan sebagai tahapan di mana guru memberikan rangsangan kepada para siswa agar mau membaca teks drama dan memahaminya. Tahap interpretasi adalah tahapan mendiskusikan hasil bacaan dengan mendiskusikannya dalam kelompok dengan panduan pertanyaan dari guru. Tahap re-kreasi adalah tahapan sejauh mana para siswa memahami teks drama sehingga mereka dapat mengkreasikan kembali hasil pemahamannya.Strategi Analisis terhadap teks drama dilakukan dalam tiga tahapan. Tahapan pertama membaca dan mengemukakan kesan awal terhadap bacaannya. Tahap kedua menganalisis unsur pembangun teks drama. Dan tahap ketiga adalah tahap memberikan pendapat akhir yang merupakan perpaduan antara respons subjektif dengan analisis objektif.Tujuan penting pembelajaran drama adalah memahami bagaimana tokoh-tokoh dalam drama dipentaskan. Dalam pementasan diperlukan pemahaman perbedaan bentuk dan gaya teks drama, serta berbagai macam aturan dalam bermain drama. Cara yang ditempuh, pertama melakukan pembacaan teks drama, berlatih gerak dalam membawakan peran, dan berlatih gerak sambil mengucapkan kata-kata.
Asal-usul Drama di Indonesia
Seperti yang berkembang di dunia pada umumnya, di Indonesia pun awalnya ada dua jenis teater, yaitu teater klasik yang lahir dan berkembang dengan ketat di lingkungan istana, dan teater rakyat. Jenis teater klasik lebih terbatas, dan berawal dari teater boneka dan wayang orang. Teater boneka sudah dikenal sejak zaman prasejarah Indonesia (400 Masehi), sedangkan teater rakyat tak dikenal kapan munculnya. Teater klasik sarat dengan aturan-aturan baku, membutuhkan persiapan dan latihan suntuk, membutuhkan referensi pengetahuan, dan nilai artistik sebagai ukuran utamanya.
Teater rakyat lahir dari spontanitas kehidupan masyarakat pedesaan, jauh lebih longgar aturannya dan cukup banyak jenisnya. Teater rakyat diawali dengan teater tutur. Pertunjukannya berbentuk cerita yang dibacakan, dinyanyikan dengan tabuhan sederhana, dan dipertunjukkan di tempat yang sederhana pula. Teater tutur berkembang menjadi teater rakyat dan terdapat di seluruh Indonesia sejak Aceh sampai Irian. Meskipun jenis teater rakyat cukup banyak, umumnya cara pementasannya sama. Sederhana, perlengkapannya disesuaikan dengan tempat bermainnya, terjadi kontak antara pemain dan penonton, serta diawali dengan tabuhan dan tarian sederhana. Dalam pementasannya diselingi dagelan secara spontan yang berisi kritikan dan sindiran. Waktu pementasannya tergantung respons penonton, bisa empat jam atau sampai semalam suntuk
Perkembangan Drama di Indonesia
Sejarah perkembangan drama di Indonesia dipilah menjadi sejarah perkembangan penulisan drama dan sejarah perkembangan teater di Indonesia. Sejarah perkembangan penulisan drama meliputi:
(1) Periode Drama Melayu-Rendah
(2) Periode Drama Pujangga Baru,
(3) Periode Drama Zaman Jepang,
(4) Periode Drama Sesudah Kemerdekaan, dan
(5) Periode Drama Mutakhir.
Dalam Periode Melayu-Rendah penulis lakonnya didominasi oleh pengarang drama Belanda peranakan dan Tionghoa peranakan. Dalam Periode Drama Pujangga Baru lahirlah Bebasari karya Roestam Effendi sebagai lakon simbolis yang pertama kali ditulis oleh pengarang Indonesia. Dalam Periode Drama Zaman Jepang setiap pementasan drama harus disertai naskah lengkap untuk disensor terlebih dulu sebelum dipentaskan. Dengan adanya sensor ini, di satu pihak dapat menghambat kreativitas, tetapi di pihak lain justru memacu munculnya naskah drama. Pada Periode Drama Sesudah Kemerdekaan naskah-naskah drama yang dihasilkan sudah lebih baik dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sudah meninggalkan gaya Pujangga Baru. Pada saat itu penulis drama yang produktif dan berkualitas baik adalah Utuy Tatang Sontani, Motinggo Boesye dan Rendra. Pada Periode Mutakhir peran TIM dan DKJ menjadi sangat menonjol. Terjadi pembaruan dalam struktur drama. Pada umumnya tidak memiliki cerita, antiplot, nonlinear, tokoh-tokohnya tidak jelas identitasnya, dan bersifat nontematis. Penulis-penulis dramanya yang terkenal antara lain Rendra, Arifin C. Noer, Putu Wijaya, dan Riantiarno.
Perkembangan teater di Indonesia dibagi ke dalam: (1) Masa Perintisan Teater Modern, (2) Masa Kebangkitan Teater Modern, (3) Masa Perkembangan Teater Modern, dan (4) Masa Teater Mutakhir. Masa perintisan diawali dengan munculnya Komedi Stamboel. Masa kebangkitan muncul teater Dardanella yang terpengaruh oleh Barat. Masa perkembangan ditengarai dengan hadirnya Sandiwara Maya, dan setelah kemerdekaan ditandai dengan lahirnya ATNI dan ASDRAFI. Dalam masa perkembangan teater mutakhir ditandai dengan berkiprahnya 8 nama besar teater yang mendominasi zaman emas pertama dan kedua, yaitu Bengkel Teater, Teater Kecil, Teater Populer, Studi klub Teater Bandung, Teater Mandiri, Teater Koma, Teater Saja, dan Teater Lembaga.
Referensi :
Buku Drama Karya B. Rahmanto
Pakde sofa
Minggu, 25 April 2010
UTS adalah ujian tengah semester yang wajip diikuti oleh setiap mahasiswa di setiap kampus.Karena dengan UTS, mahasiswa dapat memperbaiki nilai semesternya.
Dikampus Gunadarma sendiri satu mingu lagi mengadakan ujian tengah semester atau lebih sering disebut sebagai UTS. Karena saya adalah mahasiswa adri kampus Gunadarma, jadi saya akan mempersiapkan diri saya untuk menghadapi UTS ini.Dalam menghadapi UTS ini saya sudah mempersiapkan diri saya dengan cara melengkapi catatan-catatan saya yang kurang lengkap supaya saya belajar lebih baik dan mempelajari kembali pelajaran-pelajaran yang sudah lewat supaya saya lebih mengerti.Disamping itu, saya mengadakan belajar bersama dengan teman-teman saya supaya bias menanyakan pelajaran-pelajaran yang kurang saya mengerti. Karena dengan itu saya menjadi lebih bias menjawap pertanyaan-pertanyaan yang di berikan oleh para Dosen pengajar saya.
Dikampus Gunadarma sendiri satu mingu lagi mengadakan ujian tengah semester atau lebih sering disebut sebagai UTS. Karena saya adalah mahasiswa adri kampus Gunadarma, jadi saya akan mempersiapkan diri saya untuk menghadapi UTS ini.Dalam menghadapi UTS ini saya sudah mempersiapkan diri saya dengan cara melengkapi catatan-catatan saya yang kurang lengkap supaya saya belajar lebih baik dan mempelajari kembali pelajaran-pelajaran yang sudah lewat supaya saya lebih mengerti.Disamping itu, saya mengadakan belajar bersama dengan teman-teman saya supaya bias menanyakan pelajaran-pelajaran yang kurang saya mengerti. Karena dengan itu saya menjadi lebih bias menjawap pertanyaan-pertanyaan yang di berikan oleh para Dosen pengajar saya.
Rabu, 31 Maret 2010
Sejarah dan Kebenaran Puisi
Sejarah puisi terlihat indah dan penuh kemenangan. Namun, bagaimana dengan kenyataan yang ada sekarang? Puisi sukar dipahami. Bahasanya terlalu 'ndakik-ndakik', kata kritikus. Seperti telah disinggung di atas, bisa jadi itulah yang membuat orang malas menulis atau membaca puisi. Di dunia di mana budaya konsumerisme semakin menjadi pilihan untuk menjalani hidup, keinginan untuk mendapatkan segala sesuatu secara instan adalah yang utama. Posisi puisi dengan bahasa yang sepertinya sengaja 'dipersulit' untuk bisa dimengerti dan hanya berkutat pada masalah pribadi si penyair (apalagi yang belum terkenal) tentu akan semakin tersingkirkan atau menjadi terlalu eksklusif. Slogan seni untuk seni (l'art pour l'art) yang mungkin masih diyakini oleh beberapa penyair sampai saat ini hanya menempatkan puisi sebagai menara gading. Puisi hanya semata masalah keindahan. Bagi perkembangan masyarakat, ia tidak membawa dampak apa-apa. Akibatnya masyarakat sendiri menjadi apatis dengan puisi. Puisi hanya menjadi milik mereka yang 'paham'.
Ketika kekerasan telah mematikan unsur kemanusiaan, puisi seolah terdakwa untuk menggugatnya. Ketika lembaran sejarah begitu amis dengan darah, puisi juga turut merekamnya.
Puisi sebagai sebuah karya, mempunyai kaitan erat antara penyair dan latar belakang penciptaannya, seperti aliran, filsafat, dan latar belakang sosial budaya pada zaman penciptannya. Hal-hal tersebut mewarnai puisi-puisi yang diciptakan oleh si penyair itu sendiri. Puisi tidaklah lahir dari kekosongan budaya, melainkan dalam konteks sosial dan realitas di zamannya.
Puisi, bentuk sastra, lisan atau tertulis, yang menekankan ritme, pola-pola rumit lain suara dan gambaran, dan banyak cara yang mungkin dapat menyarankan bahwa kata-kata makna. Kata itu sendiri berasal dari kata Yunani, poesis, yang berarti "membuat" atau "menciptakan." Sedangkan pidato dan menulis biasa, yang disebut prosa, yang terorganisir dalam kalimat-kalimat dan paragraf, puisi dalam definisi yang paling sederhana diatur dalam satuan yang disebut baris dan juga dalam kalimat, dan sering di bait, yang merupakan paragraf puisi. Cara garis puisi terstruktur dapat dianggap sebagai semacam pakaian dan pakaian yang membentuk pikiran di dalamnya. Tertua dan paling sudah berjalan lama untuk mengklasifikasi genre puisi yang epik, puisi narasi panjang berpusat di sekitar pahlawan nasional, dan lirik, puisi pendek yang kuat mengekspresikan emosi.
Sepanjang sejarah panjang puisi telah berkembang bergantung pada aturan-aturan tentang apa puisi ini, dengan jenis-jenis puisi baru bangunan pada jenis sebelumnya untuk menciptakan kemungkinan yang lebih besar ekspresi. Pada abad ke-20 penyair semakin menggunakan bahasa percakapan sehari-hari dan menciptakan bentuk-bentuk baru yang melanggar aturan-aturan yang biasa puisi, seperti organisasinya sesuai unit. Namun mengejutkan pembaca dan membangkitkan tanggapan, baru harus dilihat berbeda dengan yang lama, dan dengan demikian puisi masih tergantung pada kedalaman pembaca pengetahuan tentang praktik puitis dari masa lalu untuk efektivitas. Meskipun banyak puisi dalam bentuk tertulis, biasanya mewakili sebuah suara berbicara yang tidak sama dengan penyair itu. Dalam beberapa sajak puisi, suara ini tampaknya untuk berbicara tentang perasaan individu, dalam puisi epik, tampaknya suara untuk berbicara atas nama suatu bangsa atau komunitas. Suara puitis menghadapi segala macam yang tak terkatakan dan mendorong batas-batas bahasa dan pengalaman. Abad ke-20 penyair Amerika Michael Palmer mencirikan aspek ini ketika ia menulis puisi main-main, "Betapa indah yang tak terkatakan harus. Anda hanya perlu mengatakan hal itu dan menceritakan sebuah cerita. "Pada tingkat terdalam, puisi berusaha untuk berkomunikasi tak terkatakan aspek pengalaman manusia, melalui tradisi-tradisi yang masih berkembang kuno dan penuh gairah seni
Apakah yang ada di benak kita saat menyebut kata "puisi"? Apakah syair-syair cinta seperti yang ada di Kidung Agung? Ataukah untaian kalimat indah, sebagaimana di kartu-kartu ucapan, yang memakai gaya bertutur ala Shakespeare, Gibran, atau bahkan Rangga? Ataukah bait- bait kalimat yang diucapkan dengan suara lantang seperti orang berorasi? Mungkin kita malah menganggap setiap kalimat yang tidak umum dan disusun secara berirama sebagai puisi? Gambaran tiap orang tentang sebuah puisi memang bisa berbeda-beda. Semua tergantung pengalaman pribadinya dengan apa yang disebut puisi itu. Meski begitu, tentunya puisi bukanlah suatu bentuk tulisan yang asing bagi kita.Secara pribadi, saya menyetujui hakikat puisi sebagai suatu bentuk tulisan yang bersifat sangat pribadi/personal. Sebuah puisi biasanya dan mungkin juga hanya akan berisi cerminan sang penulis puisi (penyair) akan sesuatu hal di dunianya. Ini tentu jauh lebih pribadi dari artikel yang bisa lebih banyak mengutip pendapat orang lain daripada pendapatnya sendiri; juga lebih personal dari karya seorang novelis yang tidak selalu mewakili dirinya sendiri. Sedemikian privasi
dan subyektifnya sebuah puisi sehingga memiliki makna tersendiri. Hal ini menjadi salah satu alasan yang menyebabkan sebagian orang menganjurkan agar puisi tidak diterjemahkan.
Puisi, untuk satu dan lain hal, bentuknya juga cenderung mudah dikenali, baik ketika masih berbentuk aksara maupun setelah dibacakan. Kata-kata yang tidak biasa, penggunaan metafor, hingga ketidaklengkapan kalimatnya memberi ciri tersendiri bagi puisi. Ribut Wijoto malah berpendapat bahwa salah satu ciri mendasar dari puisi menyerupai gaya bertutur pengidap skizofrenia.
Apakah itu alasan yang menimbulkan pendapat bahwa menulis puisi adalah sulit? Bisa ya bisa tidak. Apakah itu yang membuat orang suka menulis puisi? Bisa ya bisa tidak.
Namun, penggunaan berbagai metafor atau kata-kata yang tidak biasa dalam puisi sendiri pada dasarnya adalah bagian dari proses berkomunikasi dan berbahasa. Sama seperti jika ada orang Indonesia yang lebih suka mengungkapkan beberapa hal (rasa sakit, rasa terkejut, rasa senang, dsb) dalam bahasa Inggris karena ia merasa kata itu lebih tepat dan efektif dalam menggambarkan apa yang ada di pikirannya. Karenanya, seorang penyair tentu saja orang yang pandai mengolah bahasa. Inilah sifat puisi yang lain, yakni efektif dalam memakai kata-kata untuk menyampaikan pendapat dan pikiran. Oleh karenanya, tak heran jika kita mengenal genre puisi yang berasal dari Jepang bernama haiku, yang hanya terdiri dari 14 suku kata. Bahkan dalam dunia puisi modern, kita juga bisa menjumpai sebuah puisi yang hanya berisi satu atau dua kata saja.
Dalam konteks sejarah, puisi juga termasuk salah satu bentuk tulisan yang usianya sangat tua. Mungkin bisa disebut sebagai nenek moyang dalam dunia penulisan. Keberadaan syar-syair tua seperti Kidung Agung, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, serta syair-syair mitologi Yunani sebagaimana terdapat dalam Iliad dan Odyssey karya Homerus adalah buktinya. Demikian juga dengan kitab-kitab kebijaksanaan Tao dan Konfusius, atau tradisi sastra lokal seperti pantun, gurindam, seloka, dsb., semuanya disajikan dalam syair-syair yang indah.
Seiring perkembangan sejarah peradaban manusia, puisi (sastra) juga terus-menerus mengambil semakin banyak peran dan pengaruh dalam kemajuan kehidupan manusia. Kemajuan peradaban Tiongkok (yang juga mempengaruhi Vietnam, Jepang, dll.) tentu tak bisa dilepaskan dari budaya mereka yang sangat menjunjung tinggi sajak- sajak dan para penyair. Sementara dalam dunia sosial dan politik telah berkali-kali pula dicatat peran para penyair misalnya, Pablo Neruda, Wiji Thukul, Nikolai Vaptsarov, Fransisco Borja da Costa, juga Chairil Anwar yang lewat puisi mereka memimpin bangsanya ke arah perubahan. Pemimpin politik seperti Ho Chi Minh dan Mao Zedong pun merasa bahwa puisi adalah sarana yang cocok untuk mengekspresikan pikirannya. Karena puisi pulalah hati dan gairah dapat menyala dan berkobar, dan puisi pulalah yang sanggup memerahkan telinga wapres kita sampai akhirnya marah-marah di acara HUT PGRI ke-60 di Solo beberapa waktu lalu.(seniman, kritikus, kurator, dsb.).
Paradigma dan keadaan seperti itu tentulah bukan sesuatu yang harus dipertahankan. Dalam lingkungannya sendiri, seni dan sastra realis, baik realisme sosialis, realisme magis, dan sejenisnya, yang menolak bentuk eksklusif dan tidak menyuarakan apa-apa selain nilai estetika, sempat dan masih sering dipakai untuk mengatasi masalah itu. Sementara dalam segi kemasan, sastra, khususnya puisi mulai mengalami metamorfosanya sendiri. Film seperti "Ada Apa dengan Cinta", milis-milis, juga komunitas-komunitas penggemar jenis tulisan puisi (anggotanya bahkan umumnya anak muda, yang beberapa di antaranya malah sudah menerbitkan buku antologi puisi karya mereka sendiri), menjadi media yang subur bagi pengembangan puisi. Gaya bahasa puisi kontemporer yang semakin sederhana, pembawaan puisi dengan gaya teatrikal, meledak-ledak seperti orasi, dsb. menjadi beberapa cara yang telah ditempuh guna mengubah puisi agar lebih komunikatif dan menjadi milik semua orang.
Anggapan bahwa pembaca puisi hanyalah kalangan yang terbatas saat ini juga mulai menyurut. Setidaknya lihatlah betapa banyak buku Kahlil Gibran yang beredar di toko buku saat ini. Dalam literatur Kristen, tengok pula berapa banyak orang terinspirasi oleh puisi berjudul "Footprints". Begitu juga fakta bahwa banyak orang telah mendapat inspirasi dan hidupnya berubah setelah membaca ayat dalam Kitab Suci yang ditulis dengan gaya bersyair. Namun, sekali lagi harus diakui bahwa mengubah paradigma masyarakat yang menganggap berpuisi dan membaca puisi sebagai kegiatan tak berguna merupakan perjuangan tersendiri.
Penulisan puisi kemudian terbatas di kartu-kartu ucapan yang hanya dibaca sekali lalu lebih sering dibuang. Apresiasi masyarakat atas puisi atau sastra atau seni menjadi seperti apresiasi penduduk Yunani akan Allah yang Tak Dikenal (Kis. 17:23); tahu bahwa Ia ada, namun terasa jauh, sukar dipahami, dan seringkali mengakibatkan 'pengetahuan' itu menjadi milik segelintir orang saja
Dunia penulisan Kristen tampaknya juga mengalami masalah yang kurang lebih serupa. Tanpa mengurangi penghargaan kepada penulis Kristen yang mungkin selama ini telah mendedikasikan dirinya dalam dunia puisi, kita tentu tak dapat membohongi diri bahwa saat ini tak banyak orang Kristen yang mau menulis puisi untuk menyuarakan pendapatnya dan pendapat-Nya untuk dunia ini. Mengingat kekhasannya, semestinya mereka juga dapat memanfaatkan puisi sebagai sarana penyampaian pendapat sebagaimana tulisan khotbah, kesaksian dan renungan. Lagi pula, sebagai bagian dari seni dan budaya, puisi juga dengan sendirinya dapat lebih mudah diserap oleh kalangan luas, sehingga menyebabkan para pemimpin negara atau juga para penjajah dulu begitu memperhatikan gerakan para penyair dan seniman. Mereka menyadari bahwa puisi juga menjadi salah satu sarana penyebaran ideologi yang efektif.
Lalu pertanyaannya sekarang adalah mungkinkah kita bisa benar-benar serius memakai puisi sebagai media penyataan terang-Nya? Semua memang kembali kepada diri kita sendiri. Saya sendiri yakin bahwa militansi para penulis Kristen tentu tak kalah dengan seorang buruh pelitur mebel asal Solo bernama Wiji Thukul yang rela menanggung risiko dilenyapkan oleh militer sampai sekarang. Bahkan kerelaan hati kita tentu juga bisa lebih dari yang dimiliki penyair sekuler macam W.S. Rendra yang pada masa-masa awal karirnya rela hanya makan nasi dan garam demi tekad untuk hidup dari seni (puisi) dan tidak lagi memandang seni sebagai kegiatan pengisi waktu saja.
Ketika Roland Barthes memproklamirkan "Kematian Pengarang", mengingat pada masa ini pembacalah yang lebih dominan menilai dan memahami satu karya daripada sang pengarang, penulis Kristen tak perlu jera dan gentar menghadapinya. Sejarah membuktikan, kenyataan di sekitar menunjukkan, dan Roh Kudus yang akan memampukan, bahwa puisi bukanlah sebuah kesia-siaan. Puisi dapat menjadi alat komunikasi yang efektif dalam menyatakan kebenaran-Nya. Bahkan jika ditulis dan dikemas dengan baik ia akan sanggup melewati sekat-sekat yang selama ini membatasi tulisan-tulisan Kristen untuk diterima masyarakat luas. Ah, puisi ternyata memang tidak melulu masalah puitis atau tidak.
Referensi :
1.JJ Kusni,Esai Ketika Dicemoohkan, Puisi Terus Ditulis
http://cybersastra.net/cgi-bin/naskah/viewesai.cgi?category=5&id=1030351856
2.Percy Bysshe Shelley, A Defence of Poetry (dalam bentuk ebook
dari Project Gutenberg)
3.Ribut Wijoto, Artikel Skizofrenia pada Gejala Estetik Puisi
http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2003/014/bud3.html
4.Ary Cahya Utomo
Sejarah puisi terlihat indah dan penuh kemenangan. Namun, bagaimana dengan kenyataan yang ada sekarang? Puisi sukar dipahami. Bahasanya terlalu 'ndakik-ndakik', kata kritikus. Seperti telah disinggung di atas, bisa jadi itulah yang membuat orang malas menulis atau membaca puisi. Di dunia di mana budaya konsumerisme semakin menjadi pilihan untuk menjalani hidup, keinginan untuk mendapatkan segala sesuatu secara instan adalah yang utama. Posisi puisi dengan bahasa yang sepertinya sengaja 'dipersulit' untuk bisa dimengerti dan hanya berkutat pada masalah pribadi si penyair (apalagi yang belum terkenal) tentu akan semakin tersingkirkan atau menjadi terlalu eksklusif. Slogan seni untuk seni (l'art pour l'art) yang mungkin masih diyakini oleh beberapa penyair sampai saat ini hanya menempatkan puisi sebagai menara gading. Puisi hanya semata masalah keindahan. Bagi perkembangan masyarakat, ia tidak membawa dampak apa-apa. Akibatnya masyarakat sendiri menjadi apatis dengan puisi. Puisi hanya menjadi milik mereka yang 'paham'.
Ketika kekerasan telah mematikan unsur kemanusiaan, puisi seolah terdakwa untuk menggugatnya. Ketika lembaran sejarah begitu amis dengan darah, puisi juga turut merekamnya.
Puisi sebagai sebuah karya, mempunyai kaitan erat antara penyair dan latar belakang penciptaannya, seperti aliran, filsafat, dan latar belakang sosial budaya pada zaman penciptannya. Hal-hal tersebut mewarnai puisi-puisi yang diciptakan oleh si penyair itu sendiri. Puisi tidaklah lahir dari kekosongan budaya, melainkan dalam konteks sosial dan realitas di zamannya.
Puisi, bentuk sastra, lisan atau tertulis, yang menekankan ritme, pola-pola rumit lain suara dan gambaran, dan banyak cara yang mungkin dapat menyarankan bahwa kata-kata makna. Kata itu sendiri berasal dari kata Yunani, poesis, yang berarti "membuat" atau "menciptakan." Sedangkan pidato dan menulis biasa, yang disebut prosa, yang terorganisir dalam kalimat-kalimat dan paragraf, puisi dalam definisi yang paling sederhana diatur dalam satuan yang disebut baris dan juga dalam kalimat, dan sering di bait, yang merupakan paragraf puisi. Cara garis puisi terstruktur dapat dianggap sebagai semacam pakaian dan pakaian yang membentuk pikiran di dalamnya. Tertua dan paling sudah berjalan lama untuk mengklasifikasi genre puisi yang epik, puisi narasi panjang berpusat di sekitar pahlawan nasional, dan lirik, puisi pendek yang kuat mengekspresikan emosi.
Sepanjang sejarah panjang puisi telah berkembang bergantung pada aturan-aturan tentang apa puisi ini, dengan jenis-jenis puisi baru bangunan pada jenis sebelumnya untuk menciptakan kemungkinan yang lebih besar ekspresi. Pada abad ke-20 penyair semakin menggunakan bahasa percakapan sehari-hari dan menciptakan bentuk-bentuk baru yang melanggar aturan-aturan yang biasa puisi, seperti organisasinya sesuai unit. Namun mengejutkan pembaca dan membangkitkan tanggapan, baru harus dilihat berbeda dengan yang lama, dan dengan demikian puisi masih tergantung pada kedalaman pembaca pengetahuan tentang praktik puitis dari masa lalu untuk efektivitas. Meskipun banyak puisi dalam bentuk tertulis, biasanya mewakili sebuah suara berbicara yang tidak sama dengan penyair itu. Dalam beberapa sajak puisi, suara ini tampaknya untuk berbicara tentang perasaan individu, dalam puisi epik, tampaknya suara untuk berbicara atas nama suatu bangsa atau komunitas. Suara puitis menghadapi segala macam yang tak terkatakan dan mendorong batas-batas bahasa dan pengalaman. Abad ke-20 penyair Amerika Michael Palmer mencirikan aspek ini ketika ia menulis puisi main-main, "Betapa indah yang tak terkatakan harus. Anda hanya perlu mengatakan hal itu dan menceritakan sebuah cerita. "Pada tingkat terdalam, puisi berusaha untuk berkomunikasi tak terkatakan aspek pengalaman manusia, melalui tradisi-tradisi yang masih berkembang kuno dan penuh gairah seni
Apakah yang ada di benak kita saat menyebut kata "puisi"? Apakah syair-syair cinta seperti yang ada di Kidung Agung? Ataukah untaian kalimat indah, sebagaimana di kartu-kartu ucapan, yang memakai gaya bertutur ala Shakespeare, Gibran, atau bahkan Rangga? Ataukah bait- bait kalimat yang diucapkan dengan suara lantang seperti orang berorasi? Mungkin kita malah menganggap setiap kalimat yang tidak umum dan disusun secara berirama sebagai puisi? Gambaran tiap orang tentang sebuah puisi memang bisa berbeda-beda. Semua tergantung pengalaman pribadinya dengan apa yang disebut puisi itu. Meski begitu, tentunya puisi bukanlah suatu bentuk tulisan yang asing bagi kita.Secara pribadi, saya menyetujui hakikat puisi sebagai suatu bentuk tulisan yang bersifat sangat pribadi/personal. Sebuah puisi biasanya dan mungkin juga hanya akan berisi cerminan sang penulis puisi (penyair) akan sesuatu hal di dunianya. Ini tentu jauh lebih pribadi dari artikel yang bisa lebih banyak mengutip pendapat orang lain daripada pendapatnya sendiri; juga lebih personal dari karya seorang novelis yang tidak selalu mewakili dirinya sendiri. Sedemikian privasi
dan subyektifnya sebuah puisi sehingga memiliki makna tersendiri. Hal ini menjadi salah satu alasan yang menyebabkan sebagian orang menganjurkan agar puisi tidak diterjemahkan.
Puisi, untuk satu dan lain hal, bentuknya juga cenderung mudah dikenali, baik ketika masih berbentuk aksara maupun setelah dibacakan. Kata-kata yang tidak biasa, penggunaan metafor, hingga ketidaklengkapan kalimatnya memberi ciri tersendiri bagi puisi. Ribut Wijoto malah berpendapat bahwa salah satu ciri mendasar dari puisi menyerupai gaya bertutur pengidap skizofrenia.
Apakah itu alasan yang menimbulkan pendapat bahwa menulis puisi adalah sulit? Bisa ya bisa tidak. Apakah itu yang membuat orang suka menulis puisi? Bisa ya bisa tidak.
Namun, penggunaan berbagai metafor atau kata-kata yang tidak biasa dalam puisi sendiri pada dasarnya adalah bagian dari proses berkomunikasi dan berbahasa. Sama seperti jika ada orang Indonesia yang lebih suka mengungkapkan beberapa hal (rasa sakit, rasa terkejut, rasa senang, dsb) dalam bahasa Inggris karena ia merasa kata itu lebih tepat dan efektif dalam menggambarkan apa yang ada di pikirannya. Karenanya, seorang penyair tentu saja orang yang pandai mengolah bahasa. Inilah sifat puisi yang lain, yakni efektif dalam memakai kata-kata untuk menyampaikan pendapat dan pikiran. Oleh karenanya, tak heran jika kita mengenal genre puisi yang berasal dari Jepang bernama haiku, yang hanya terdiri dari 14 suku kata. Bahkan dalam dunia puisi modern, kita juga bisa menjumpai sebuah puisi yang hanya berisi satu atau dua kata saja.
Dalam konteks sejarah, puisi juga termasuk salah satu bentuk tulisan yang usianya sangat tua. Mungkin bisa disebut sebagai nenek moyang dalam dunia penulisan. Keberadaan syar-syair tua seperti Kidung Agung, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, serta syair-syair mitologi Yunani sebagaimana terdapat dalam Iliad dan Odyssey karya Homerus adalah buktinya. Demikian juga dengan kitab-kitab kebijaksanaan Tao dan Konfusius, atau tradisi sastra lokal seperti pantun, gurindam, seloka, dsb., semuanya disajikan dalam syair-syair yang indah.
Seiring perkembangan sejarah peradaban manusia, puisi (sastra) juga terus-menerus mengambil semakin banyak peran dan pengaruh dalam kemajuan kehidupan manusia. Kemajuan peradaban Tiongkok (yang juga mempengaruhi Vietnam, Jepang, dll.) tentu tak bisa dilepaskan dari budaya mereka yang sangat menjunjung tinggi sajak- sajak dan para penyair. Sementara dalam dunia sosial dan politik telah berkali-kali pula dicatat peran para penyair misalnya, Pablo Neruda, Wiji Thukul, Nikolai Vaptsarov, Fransisco Borja da Costa, juga Chairil Anwar yang lewat puisi mereka memimpin bangsanya ke arah perubahan. Pemimpin politik seperti Ho Chi Minh dan Mao Zedong pun merasa bahwa puisi adalah sarana yang cocok untuk mengekspresikan pikirannya. Karena puisi pulalah hati dan gairah dapat menyala dan berkobar, dan puisi pulalah yang sanggup memerahkan telinga wapres kita sampai akhirnya marah-marah di acara HUT PGRI ke-60 di Solo beberapa waktu lalu.(seniman, kritikus, kurator, dsb.).
Paradigma dan keadaan seperti itu tentulah bukan sesuatu yang harus dipertahankan. Dalam lingkungannya sendiri, seni dan sastra realis, baik realisme sosialis, realisme magis, dan sejenisnya, yang menolak bentuk eksklusif dan tidak menyuarakan apa-apa selain nilai estetika, sempat dan masih sering dipakai untuk mengatasi masalah itu. Sementara dalam segi kemasan, sastra, khususnya puisi mulai mengalami metamorfosanya sendiri. Film seperti "Ada Apa dengan Cinta", milis-milis, juga komunitas-komunitas penggemar jenis tulisan puisi (anggotanya bahkan umumnya anak muda, yang beberapa di antaranya malah sudah menerbitkan buku antologi puisi karya mereka sendiri), menjadi media yang subur bagi pengembangan puisi. Gaya bahasa puisi kontemporer yang semakin sederhana, pembawaan puisi dengan gaya teatrikal, meledak-ledak seperti orasi, dsb. menjadi beberapa cara yang telah ditempuh guna mengubah puisi agar lebih komunikatif dan menjadi milik semua orang.
Anggapan bahwa pembaca puisi hanyalah kalangan yang terbatas saat ini juga mulai menyurut. Setidaknya lihatlah betapa banyak buku Kahlil Gibran yang beredar di toko buku saat ini. Dalam literatur Kristen, tengok pula berapa banyak orang terinspirasi oleh puisi berjudul "Footprints". Begitu juga fakta bahwa banyak orang telah mendapat inspirasi dan hidupnya berubah setelah membaca ayat dalam Kitab Suci yang ditulis dengan gaya bersyair. Namun, sekali lagi harus diakui bahwa mengubah paradigma masyarakat yang menganggap berpuisi dan membaca puisi sebagai kegiatan tak berguna merupakan perjuangan tersendiri.
Penulisan puisi kemudian terbatas di kartu-kartu ucapan yang hanya dibaca sekali lalu lebih sering dibuang. Apresiasi masyarakat atas puisi atau sastra atau seni menjadi seperti apresiasi penduduk Yunani akan Allah yang Tak Dikenal (Kis. 17:23); tahu bahwa Ia ada, namun terasa jauh, sukar dipahami, dan seringkali mengakibatkan 'pengetahuan' itu menjadi milik segelintir orang saja
Dunia penulisan Kristen tampaknya juga mengalami masalah yang kurang lebih serupa. Tanpa mengurangi penghargaan kepada penulis Kristen yang mungkin selama ini telah mendedikasikan dirinya dalam dunia puisi, kita tentu tak dapat membohongi diri bahwa saat ini tak banyak orang Kristen yang mau menulis puisi untuk menyuarakan pendapatnya dan pendapat-Nya untuk dunia ini. Mengingat kekhasannya, semestinya mereka juga dapat memanfaatkan puisi sebagai sarana penyampaian pendapat sebagaimana tulisan khotbah, kesaksian dan renungan. Lagi pula, sebagai bagian dari seni dan budaya, puisi juga dengan sendirinya dapat lebih mudah diserap oleh kalangan luas, sehingga menyebabkan para pemimpin negara atau juga para penjajah dulu begitu memperhatikan gerakan para penyair dan seniman. Mereka menyadari bahwa puisi juga menjadi salah satu sarana penyebaran ideologi yang efektif.
Lalu pertanyaannya sekarang adalah mungkinkah kita bisa benar-benar serius memakai puisi sebagai media penyataan terang-Nya? Semua memang kembali kepada diri kita sendiri. Saya sendiri yakin bahwa militansi para penulis Kristen tentu tak kalah dengan seorang buruh pelitur mebel asal Solo bernama Wiji Thukul yang rela menanggung risiko dilenyapkan oleh militer sampai sekarang. Bahkan kerelaan hati kita tentu juga bisa lebih dari yang dimiliki penyair sekuler macam W.S. Rendra yang pada masa-masa awal karirnya rela hanya makan nasi dan garam demi tekad untuk hidup dari seni (puisi) dan tidak lagi memandang seni sebagai kegiatan pengisi waktu saja.
Ketika Roland Barthes memproklamirkan "Kematian Pengarang", mengingat pada masa ini pembacalah yang lebih dominan menilai dan memahami satu karya daripada sang pengarang, penulis Kristen tak perlu jera dan gentar menghadapinya. Sejarah membuktikan, kenyataan di sekitar menunjukkan, dan Roh Kudus yang akan memampukan, bahwa puisi bukanlah sebuah kesia-siaan. Puisi dapat menjadi alat komunikasi yang efektif dalam menyatakan kebenaran-Nya. Bahkan jika ditulis dan dikemas dengan baik ia akan sanggup melewati sekat-sekat yang selama ini membatasi tulisan-tulisan Kristen untuk diterima masyarakat luas. Ah, puisi ternyata memang tidak melulu masalah puitis atau tidak.
Referensi :
1.JJ Kusni,Esai Ketika Dicemoohkan, Puisi Terus Ditulis
http://cybersastra.net/cgi-bin/naskah/viewesai.cgi?category=5&id=1030351856
2.Percy Bysshe Shelley, A Defence of Poetry (dalam bentuk ebook
dari Project Gutenberg)
3.Ribut Wijoto, Artikel Skizofrenia pada Gejala Estetik Puisi
http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2003/014/bud3.html
4.Ary Cahya Utomo
Kamis, 11 Maret 2010
RENCANA PI KU.........
Salah satu syarat kelulusan di UNIVERSITAS GUNADARMA adalah harus menulis Penulisan Ilmiah,atau sering di sebut dengan PI.Penulisan Ilmiah ini di lakukan tepatnya pada semester 6.Dan kebetulan pada saat ini saya sudah semester 6,jadi saya harus menulis PI supaya memenuhi syarat untuk menuju gelar Sarjana.Dan rencana PIku adalah saya sudah memilih beberapa judul yang akan saya tulis,di mana akan saya ajukan kepada dosen pembimbing saya.Diantara judul-judul yang telah saya rencanakan ada judul yang mungkin jadi saya kembangkan menjadi PI atau penulisan ilmiah,yaitu Studi Kelayakan Usaha.Saya akan menulisnya dengan baik dan benar tanpa mengganggu kesenangan orang lain.Selain itu,tujuan penuliasan ilmiah ini saya lakukan bukan semata-mata untuk memenihi syarat kelulusan saja,tapi saya juga berharap dalam penulisan ilmiah ini saya bisa lebih banyak mengetahui tentang penulisan-penulisan,dan memperluas wawasan saya.
Demikian Rencana PIku saya tuliskan !!!!
Terimakasih......
Salah satu syarat kelulusan di UNIVERSITAS GUNADARMA adalah harus menulis Penulisan Ilmiah,atau sering di sebut dengan PI.Penulisan Ilmiah ini di lakukan tepatnya pada semester 6.Dan kebetulan pada saat ini saya sudah semester 6,jadi saya harus menulis PI supaya memenuhi syarat untuk menuju gelar Sarjana.Dan rencana PIku adalah saya sudah memilih beberapa judul yang akan saya tulis,di mana akan saya ajukan kepada dosen pembimbing saya.Diantara judul-judul yang telah saya rencanakan ada judul yang mungkin jadi saya kembangkan menjadi PI atau penulisan ilmiah,yaitu Studi Kelayakan Usaha.Saya akan menulisnya dengan baik dan benar tanpa mengganggu kesenangan orang lain.Selain itu,tujuan penuliasan ilmiah ini saya lakukan bukan semata-mata untuk memenihi syarat kelulusan saja,tapi saya juga berharap dalam penulisan ilmiah ini saya bisa lebih banyak mengetahui tentang penulisan-penulisan,dan memperluas wawasan saya.
Demikian Rencana PIku saya tuliskan !!!!
Terimakasih......
Rabu, 10 Maret 2010
Definisi Karya Ilmiah
Karya Ilmiah adalah karya tulis yang disusun oleh seorang penulis berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukannya.
Karya ilmiah juga biasa disebut karangan ilmiah. Menurut Brotowidjoyo karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodolog penulisan yang baik dan benar.
Adapun jenis karangan ilmiah yaitu:
1. Makalah: karya tulis yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif (menurut bahasa, makalah berasal dari bahasa Arab yang berarti karangan).
2. Kertas kerja: makalah yang memiliki tingkat analisis lebih serius, biasanya disajikan dalam lokakarya.
3. Skripsi: karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasar pendapat orang lain
4. Tesis: karya tulis ilmiah yang sifatnya lebih mendalam daripada skripsi.
5. Disertasi: karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasar data dan fakta yang sahih dengan analisi yang terinci.
Menurut http://www.geocities.com/liacybercampus/pedomanskripsi, karya ilmiah ada dua jenis, yaitu :
a. Karangan ilmiah, yaitu salah satu jenis karangan yang berisi serangkaian hasil pemikiran yang
diperoleh sesuai dengan sifat keilmuannya.
b. Laporan ilmiah, yaitu suatu wahana penyampaian berita, informasi, pengetahuan,atau gagasan dari
seseorang kepada orang lain. Laporan ini dapat berbentuk lisan dan dapat berbentuk tulisan. Laporan yang disampaikan secara tertulis merupakan suatu karangan.. Jika laporan ini berisi serangkaian hasil pemikiran yang diperoleh dari hasil penelitian, pengamatan ataupun peninjauan, maka laporan ini termasuk jenis karangan ilmiah. Dengan kata lain, laporan ilmiah ialah sejenis karangan ilmiah yang mengupas masalah ilmu pengetahuan dan telnologi yang sengaja disusun untuk disampaikan kepada orang-orang tertentu dan dalam kesempatan tertentu.
MACAM KARYA TULIS ILMIAH
Sesuai dengan cirinya yang tertulis tadi, maka karya tulis ilmiah dapat berwujud dalam bentuk makalah (dalam seminar atau simposium), artikel, laporan praktikum, skripsi, tesis, dan disertasi, yang pada dasarnya kesemuanya itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan. Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah tersebut dijadikan acuan (referensi) bagi ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya.
MAKALAH
Makalah, adalah karya ilmiah yang membahas suatu pokok persoalan, sebagai hasil penelitian atau sebagai hasil kajian yang disampaikan dalam suatu pertemuan ilmiah (seminar) atau yang berkenaan dengan tugas-tugas perkuliahan yang diberikan oleh dosen yang harus diselesaikan secara tertulis oleh mahasiswa.
SKRIPSI
Skripsi, adalah karya ilmiah yang ditulis berdasarkan hasil penelitian lapangan atau kajian pustaka dan dipertahankan di depan sidang ujian (munaqasyah) dalam rangka penyelesaian studi tingkat Strata Satu (S1) untuk memperoleh gelar Sarjana.
TESIS
Tesis, adalah karya ilmiah yang ditulis dalam rangka penyelesaian studi pada tingkat program Strata Dua (S2), yang diajukan untuk dinilai oleh tim penguji guna memperoleh gelar Magister. Pembahasan dalam tesis mencoba mengungkapkan persoalan ilmiah tertentu dan memecahkannya secara analisis kristis.
DISERTASI
Disertasi, adalah karya ilmiah yang ditulis dalam rangka penyelesaian studi pada tingkat Strata Tiga (S3) yang dipertahankan di depan sidang ujian promosi untuk memperoleh gelar Doktor (Dr.). Pembahasan dalam disertasi harus analitis kritis, dan merupakan upaya pendalaman dan pengembangan ilmu pengetahuan yang ditekuni oleh mahasiswa yang bersangkutan, dengan menggunakan pendekatan multidisipliner yang dapat memberikan suatu kesimpulan yang berimplikasi filosofis dan mencakup beberapa bidang ilmiah.
ARTIKEL
Artikel, merupakan karya tulis lengkap, seperti laporan berita atau esai di majalah, surat kabar, dan sebagainya (KBBI 2002: 66). Artikel adalah sebuah karangan prosa yang dimuat dalam media massa, yang membahas isu tertentu, persoalan, atau kasus yang berkembang dalam masyarakat secara lugas (Tartono 2005: 84).
Artikel merupakan: karya tulis atau karangan; karangan nonfiksi; karangan yang tak tentu panjangnya; karangan yang bertujuan untuk meyakinkan, mendidik, atau menghibur; sarana penyampaiannya adalah surat kabar, majalah, dan sebagainya; wujud karangan berupa berita atau “karkhas” (Pranata 2002: 120).
Artikel mempunyai dua arti: (1) barang, benda, pasal dalam undang- undang dasar atau anggaran dasar; (2) karangan, tulisan yang ada dalam surat kabar, majalah, dan sebagainya. Tetapi, kita akan lebih jelas lagi dengan penguraian Webster`s Dictionary yang mengartikan bahwa artikel adalah a literary compositon in a journal (suatu komposisi atau susunan tulisan dalam sebuah jurnal atau penerbitan atau media massa). Sejak tahun 1980 para jurnalis Amerika sepakat untuk memakai istilah artikel bagi tulisan yang berisi pendapat, sikap, atau pendirian subjektif mengenai masalah yang sedang dibahas disertai dengan alasan dan bukti yang mendukung pendapatnya.
ESAI
Esai, adalah ekspresi tertulis dari opini penulisnya. Sebuah esai akan makin baik jika penulisnya dapat menggabungkan fakta dengan imajinasi, pengetahuan dengan perasaan, tanpa mengedepankan salah satunya. Tujuannya selalu sama, yaitu mengekspresikan opini, dengan kata lain semuanya akan menunjukkan sebuah opini pribadi (opini penulis) sebagai analisa akhir. Perbedaannya dengan tulisan yang lain, sebuah esai tidak hanya sekadar menunjukkan fakta atau menceritakan sebuah pengalaman; ia menyelipkan opini penulis di antara fakta-fakta dan pengalaman tersebut. Jadi intinya kita harus memiliki sebuah opini sebelum menulis esai.
OPINI
Opini, adalah sebuah kepercayaan yang bukan berdasarkan pada keyakinan yang mutlak atau pengetahuan sahih, namun pada sesuatu yang nampaknya benar, valid atau mungkin yang ada dalam pikiran seseorang; apa yang dipikirkan seseorang; penilaian.
FIKSI
Fiksi, satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting dsb adalah hal-hal penting yang memerlukan perhatian tersendiri. Meski demikian, dengan kisah (bisa juga data) yang asalnya dari imajinasi pengarang tersebut, tulisan fiksi memungkinkan kebebasan bagi seorang pengarang untuk membangun sebuah ‘kebenaran’ yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan yang ingin ia sampaikan kepada pembacanya. Sementara itu, kebebasan yang dimiliki pengarang fiksi tadi di lain pihak juga memungkinkan adanya kebebasan bagi pembaca untuk menginterpretasikan makna yang terkandung dalam tulisan tersebut. Artinya, fiksi sangat memungkinkan adanya multi interpretasi makna. Para pendukung tulisan fiksi meliputi: novelis, cerpenis, dramawan dan kadang penyair pun sering dimasukkan ke dalam golongan ini.
Di Perguruan Tinggi, khususnya jenjang S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya ilmiah, seperti makalah, laporan praktikum, dan skrispsi (tugas akhir). Yang disebut terakhir umumnya merupakan laporan penelitian berskala kecil tetapi dilakukan cukup mendalam. Sementara itu makalah yang ditugaskan kepada mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang ditulis pakar-pakar dalam bidang persoalan yang dipelajari.
Refrensi:
Rosmini,S.Pd.
dewi Berkata:
aghan
Karya Ilmiah adalah karya tulis yang disusun oleh seorang penulis berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukannya.
Karya ilmiah juga biasa disebut karangan ilmiah. Menurut Brotowidjoyo karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodolog penulisan yang baik dan benar.
Adapun jenis karangan ilmiah yaitu:
1. Makalah: karya tulis yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif (menurut bahasa, makalah berasal dari bahasa Arab yang berarti karangan).
2. Kertas kerja: makalah yang memiliki tingkat analisis lebih serius, biasanya disajikan dalam lokakarya.
3. Skripsi: karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasar pendapat orang lain
4. Tesis: karya tulis ilmiah yang sifatnya lebih mendalam daripada skripsi.
5. Disertasi: karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasar data dan fakta yang sahih dengan analisi yang terinci.
Menurut http://www.geocities.com/liacybercampus/pedomanskripsi, karya ilmiah ada dua jenis, yaitu :
a. Karangan ilmiah, yaitu salah satu jenis karangan yang berisi serangkaian hasil pemikiran yang
diperoleh sesuai dengan sifat keilmuannya.
b. Laporan ilmiah, yaitu suatu wahana penyampaian berita, informasi, pengetahuan,atau gagasan dari
seseorang kepada orang lain. Laporan ini dapat berbentuk lisan dan dapat berbentuk tulisan. Laporan yang disampaikan secara tertulis merupakan suatu karangan.. Jika laporan ini berisi serangkaian hasil pemikiran yang diperoleh dari hasil penelitian, pengamatan ataupun peninjauan, maka laporan ini termasuk jenis karangan ilmiah. Dengan kata lain, laporan ilmiah ialah sejenis karangan ilmiah yang mengupas masalah ilmu pengetahuan dan telnologi yang sengaja disusun untuk disampaikan kepada orang-orang tertentu dan dalam kesempatan tertentu.
MACAM KARYA TULIS ILMIAH
Sesuai dengan cirinya yang tertulis tadi, maka karya tulis ilmiah dapat berwujud dalam bentuk makalah (dalam seminar atau simposium), artikel, laporan praktikum, skripsi, tesis, dan disertasi, yang pada dasarnya kesemuanya itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan. Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah tersebut dijadikan acuan (referensi) bagi ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya.
MAKALAH
Makalah, adalah karya ilmiah yang membahas suatu pokok persoalan, sebagai hasil penelitian atau sebagai hasil kajian yang disampaikan dalam suatu pertemuan ilmiah (seminar) atau yang berkenaan dengan tugas-tugas perkuliahan yang diberikan oleh dosen yang harus diselesaikan secara tertulis oleh mahasiswa.
SKRIPSI
Skripsi, adalah karya ilmiah yang ditulis berdasarkan hasil penelitian lapangan atau kajian pustaka dan dipertahankan di depan sidang ujian (munaqasyah) dalam rangka penyelesaian studi tingkat Strata Satu (S1) untuk memperoleh gelar Sarjana.
TESIS
Tesis, adalah karya ilmiah yang ditulis dalam rangka penyelesaian studi pada tingkat program Strata Dua (S2), yang diajukan untuk dinilai oleh tim penguji guna memperoleh gelar Magister. Pembahasan dalam tesis mencoba mengungkapkan persoalan ilmiah tertentu dan memecahkannya secara analisis kristis.
DISERTASI
Disertasi, adalah karya ilmiah yang ditulis dalam rangka penyelesaian studi pada tingkat Strata Tiga (S3) yang dipertahankan di depan sidang ujian promosi untuk memperoleh gelar Doktor (Dr.). Pembahasan dalam disertasi harus analitis kritis, dan merupakan upaya pendalaman dan pengembangan ilmu pengetahuan yang ditekuni oleh mahasiswa yang bersangkutan, dengan menggunakan pendekatan multidisipliner yang dapat memberikan suatu kesimpulan yang berimplikasi filosofis dan mencakup beberapa bidang ilmiah.
ARTIKEL
Artikel, merupakan karya tulis lengkap, seperti laporan berita atau esai di majalah, surat kabar, dan sebagainya (KBBI 2002: 66). Artikel adalah sebuah karangan prosa yang dimuat dalam media massa, yang membahas isu tertentu, persoalan, atau kasus yang berkembang dalam masyarakat secara lugas (Tartono 2005: 84).
Artikel merupakan: karya tulis atau karangan; karangan nonfiksi; karangan yang tak tentu panjangnya; karangan yang bertujuan untuk meyakinkan, mendidik, atau menghibur; sarana penyampaiannya adalah surat kabar, majalah, dan sebagainya; wujud karangan berupa berita atau “karkhas” (Pranata 2002: 120).
Artikel mempunyai dua arti: (1) barang, benda, pasal dalam undang- undang dasar atau anggaran dasar; (2) karangan, tulisan yang ada dalam surat kabar, majalah, dan sebagainya. Tetapi, kita akan lebih jelas lagi dengan penguraian Webster`s Dictionary yang mengartikan bahwa artikel adalah a literary compositon in a journal (suatu komposisi atau susunan tulisan dalam sebuah jurnal atau penerbitan atau media massa). Sejak tahun 1980 para jurnalis Amerika sepakat untuk memakai istilah artikel bagi tulisan yang berisi pendapat, sikap, atau pendirian subjektif mengenai masalah yang sedang dibahas disertai dengan alasan dan bukti yang mendukung pendapatnya.
ESAI
Esai, adalah ekspresi tertulis dari opini penulisnya. Sebuah esai akan makin baik jika penulisnya dapat menggabungkan fakta dengan imajinasi, pengetahuan dengan perasaan, tanpa mengedepankan salah satunya. Tujuannya selalu sama, yaitu mengekspresikan opini, dengan kata lain semuanya akan menunjukkan sebuah opini pribadi (opini penulis) sebagai analisa akhir. Perbedaannya dengan tulisan yang lain, sebuah esai tidak hanya sekadar menunjukkan fakta atau menceritakan sebuah pengalaman; ia menyelipkan opini penulis di antara fakta-fakta dan pengalaman tersebut. Jadi intinya kita harus memiliki sebuah opini sebelum menulis esai.
OPINI
Opini, adalah sebuah kepercayaan yang bukan berdasarkan pada keyakinan yang mutlak atau pengetahuan sahih, namun pada sesuatu yang nampaknya benar, valid atau mungkin yang ada dalam pikiran seseorang; apa yang dipikirkan seseorang; penilaian.
FIKSI
Fiksi, satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting dsb adalah hal-hal penting yang memerlukan perhatian tersendiri. Meski demikian, dengan kisah (bisa juga data) yang asalnya dari imajinasi pengarang tersebut, tulisan fiksi memungkinkan kebebasan bagi seorang pengarang untuk membangun sebuah ‘kebenaran’ yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan yang ingin ia sampaikan kepada pembacanya. Sementara itu, kebebasan yang dimiliki pengarang fiksi tadi di lain pihak juga memungkinkan adanya kebebasan bagi pembaca untuk menginterpretasikan makna yang terkandung dalam tulisan tersebut. Artinya, fiksi sangat memungkinkan adanya multi interpretasi makna. Para pendukung tulisan fiksi meliputi: novelis, cerpenis, dramawan dan kadang penyair pun sering dimasukkan ke dalam golongan ini.
Di Perguruan Tinggi, khususnya jenjang S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya ilmiah, seperti makalah, laporan praktikum, dan skrispsi (tugas akhir). Yang disebut terakhir umumnya merupakan laporan penelitian berskala kecil tetapi dilakukan cukup mendalam. Sementara itu makalah yang ditugaskan kepada mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang ditulis pakar-pakar dalam bidang persoalan yang dipelajari.
Refrensi:
Rosmini,S.Pd.
dewi Berkata:
aghan
Pola hubungan S+P:
Pola hubungan s + p ada 4,yaitu :
1. Semua subjek adalah bukan semua Predikat
Contoh kalimat:
a. Semua hewan adalah bukan semua harimau
b. Semua dosen adalah bukan semua laki-laki
c. Semua mobil adalah bukan semua sedan
2. A. Semua subjek adalah predikat
Contoh kalimat:
a. Semua ayah adalah kepala rumah tangga
b. Semua ibu adalah wanita
c. Semua manusia adalah ciptaan Tuhan
B. Sebagian subjek adalah predikat
a. Sebagian wanita adalah memakai kerudung
b. Sebagian dosen Universitas Gunadarma adalah laki-laki
c. Sebagian dokter kandungan adalah laki-laki
3. Tidak adapun subjek adalah predikat
a. Tidak ada satupun wanita adalah berkumis
b. Tidak satupun manusia adalah hewan
c. Tidak ada satupun manusia adalah bisa hidup sendiri
4. Sebagian subjek adalah sebagian predikat
a. Sebagian manusia adalah sebagian wanita
b. Sebagian hewan adalah sebagian hidup di air
c. Sebagian wanita adalah sebagian berkerudung
Referensi:
ATIK GUSTINI
Pola hubungan s + p ada 4,yaitu :
1. Semua subjek adalah bukan semua Predikat
Contoh kalimat:
a. Semua hewan adalah bukan semua harimau
b. Semua dosen adalah bukan semua laki-laki
c. Semua mobil adalah bukan semua sedan
2. A. Semua subjek adalah predikat
Contoh kalimat:
a. Semua ayah adalah kepala rumah tangga
b. Semua ibu adalah wanita
c. Semua manusia adalah ciptaan Tuhan
B. Sebagian subjek adalah predikat
a. Sebagian wanita adalah memakai kerudung
b. Sebagian dosen Universitas Gunadarma adalah laki-laki
c. Sebagian dokter kandungan adalah laki-laki
3. Tidak adapun subjek adalah predikat
a. Tidak ada satupun wanita adalah berkumis
b. Tidak satupun manusia adalah hewan
c. Tidak ada satupun manusia adalah bisa hidup sendiri
4. Sebagian subjek adalah sebagian predikat
a. Sebagian manusia adalah sebagian wanita
b. Sebagian hewan adalah sebagian hidup di air
c. Sebagian wanita adalah sebagian berkerudung
Referensi:
ATIK GUSTINI
Pentingnya Memiliki Motivasi
Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber
dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas
perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam
kehidupan lainnya.. Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi
kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya
pencapaian kinerja (prestasi) seseorang.
.Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-
kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia
merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat
materi, akan tetapi bersifat pskologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual.
Motivasi hidup, adalah kalimat yang sering dicari-cari ketika seseorang dilanda keterpurukan yang teramat sangat. Kehilangan gairah hidup dan tidak punya orientasi kedepan. Agar bisa tetap hidup dan bertumbuh, kita membutuhkan suatu motivasi yang kuat dan mendalam. Agar apa yang kita perbuat dapat kita laksanakan dengan penuh gairah disertai aura positif. Dan terhindar dari perbuatan-perbuatan yang akan merugikan diri kita kelak.Memiliki motivasi hidup sama halnya memiliki mesin penggerak dalam diri kita. karena dengan begitu, kita lebih mudah tergerak untuk melakukan apa-apa saja yang kita anggap baik dan mampu membentuk paradigma dalam pola gerak kita. dan tanpa kita sadari maka terbentuklah suatu tindakan yang tertata secara sistematis. Dan kesemuanya akan membantu kita dalam usaha-usaha menggapai target/status yang kita inginkan.Untuk itulah kenapa motivasi hidup sangat kita perlukan.
Walaupun sebagian orang menganggap bahwa, motivasi hidup tidak perlu. Dan menganggap bahwa “biarkanlah hidup berjalan apa adanya”. Jujur, saya agag bingung dengan pernyataan-pernyataan seperti itu. Karena hakekatnya, manusia itu memiliki hasrat-hasrat yang kuat terhadap sesuatu, hanya terkadang tertutup oleh fakta-fakta negative disekelilingnya sehingga apapun yang diinginkan, akan segera teredam dengan asumis negatifnya sendiri.Misalnya, ingin menjadi orang yang kaya dan dermawan.Hasrat untuk menjadi orang kaya, ada pada sebagian besar orang, hanya segera teredam juga dengan fakta negative. Bahwa untuk menjadi kaya ada syarat-syarat yang mesti mereka penuhi. Pandai, cerdas, berpendidikan tinggi.. bla..bla… dan lain sebagainya.Mereka menciptakan mata rantai sendiri yang muaranya pada kegagalan sebelum melakukan. Karena paradigma berfikirnya sudah tersumbat oleh fakta-fakta negative yang mereka ciptakan sendiri.
Menghadapi situasi pelik seperti itu. Kita perlu tindakan untuk menumbuhkan motivasi hidup yang sesungguhnya. menciptakan orientasi hidup yang diinginkan, lalu melakukan langkah-langkah untuk mewujudkannya. Motivasi alamiah bisa juga kita gunakan sebagai langkah awal kita merenung, berfikir dan mengambil kesimpulan-kesimpulan kecil. Setidaknya sebagai dasar untuk menumbuh-kembangkan motivasi dasar dalam diri kita.
Sekali lagi, motivasi hidup sangatlah diperlukan sebagai alat yang setia membantu memberikan energi yang tanpa batas kepada kita. disaat kita patah semangat, terjatuh ataupun gagal. Cara mudah memotivasi hidup diri sendiri, yaitu dengan mengumpulkan semua nilai-nilai atau status kehidupan yang selama ini, kita inginkan. Jadikanlah semua itu motivasi kita untuk hidup lebih bernilai
Dalam kehidupan sehari-hari kita mungkin pernah mengalami kejenuhan terhadap suatu hal yang sedang kita jalani. Misal ketika kita sedang melaksanakan kuliah, tentu kita pasti pernah mengalami kejenuhan untuk kuliah entah karena terlalu banyak tugas yang diberikan, banyak tugas yang belum diselesaikan, atau jenuh dengan waktu kuliah yang padat. Namun kejenuhan tersebut tidak boleh terus tumbuh dalam diri kita karena akan berakibat buruk bagi diri kita sendiri. Kita harus memiliki motivasi dalam diri kita agar tujuan kita dapat tercapai dengan baik.
Sebelum kita membahas motivasi lebih dalam ada baiknya kita pahami terlebih dahulu arti kata motivasi. Motivasi adalah dorongan psikologis yang mengarahkan seseorang ke arah suatu tujuan. Motivasi membuat keadaan dalam diri individu muncul, terarah, dan mempertahankan perilaku, menurut Kartini Kartono motivasi menjadi dorongan (driving force) terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu.
Motivasi yang ada pada setiap orang tidaklah sama, berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Untuk itu, diperlukan pengetahuan mengenai pengertian dan hakikat motivasi, serta kemampuan teknik menciptakan situasi sehingga menimbulkan motivasi/dorongan bagi mereka untuk berbuat atau berperilaku sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh individu lain/ organisasi.
Sumber:
by fadlymuin on March 25, 2009
Akhmad Sudrajat, M.Pd.
Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber
dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas
perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam
kehidupan lainnya.. Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi
kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya
pencapaian kinerja (prestasi) seseorang.
.Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-
kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia
merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat
materi, akan tetapi bersifat pskologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual.
Motivasi hidup, adalah kalimat yang sering dicari-cari ketika seseorang dilanda keterpurukan yang teramat sangat. Kehilangan gairah hidup dan tidak punya orientasi kedepan. Agar bisa tetap hidup dan bertumbuh, kita membutuhkan suatu motivasi yang kuat dan mendalam. Agar apa yang kita perbuat dapat kita laksanakan dengan penuh gairah disertai aura positif. Dan terhindar dari perbuatan-perbuatan yang akan merugikan diri kita kelak.Memiliki motivasi hidup sama halnya memiliki mesin penggerak dalam diri kita. karena dengan begitu, kita lebih mudah tergerak untuk melakukan apa-apa saja yang kita anggap baik dan mampu membentuk paradigma dalam pola gerak kita. dan tanpa kita sadari maka terbentuklah suatu tindakan yang tertata secara sistematis. Dan kesemuanya akan membantu kita dalam usaha-usaha menggapai target/status yang kita inginkan.Untuk itulah kenapa motivasi hidup sangat kita perlukan.
Walaupun sebagian orang menganggap bahwa, motivasi hidup tidak perlu. Dan menganggap bahwa “biarkanlah hidup berjalan apa adanya”. Jujur, saya agag bingung dengan pernyataan-pernyataan seperti itu. Karena hakekatnya, manusia itu memiliki hasrat-hasrat yang kuat terhadap sesuatu, hanya terkadang tertutup oleh fakta-fakta negative disekelilingnya sehingga apapun yang diinginkan, akan segera teredam dengan asumis negatifnya sendiri.Misalnya, ingin menjadi orang yang kaya dan dermawan.Hasrat untuk menjadi orang kaya, ada pada sebagian besar orang, hanya segera teredam juga dengan fakta negative. Bahwa untuk menjadi kaya ada syarat-syarat yang mesti mereka penuhi. Pandai, cerdas, berpendidikan tinggi.. bla..bla… dan lain sebagainya.Mereka menciptakan mata rantai sendiri yang muaranya pada kegagalan sebelum melakukan. Karena paradigma berfikirnya sudah tersumbat oleh fakta-fakta negative yang mereka ciptakan sendiri.
Menghadapi situasi pelik seperti itu. Kita perlu tindakan untuk menumbuhkan motivasi hidup yang sesungguhnya. menciptakan orientasi hidup yang diinginkan, lalu melakukan langkah-langkah untuk mewujudkannya. Motivasi alamiah bisa juga kita gunakan sebagai langkah awal kita merenung, berfikir dan mengambil kesimpulan-kesimpulan kecil. Setidaknya sebagai dasar untuk menumbuh-kembangkan motivasi dasar dalam diri kita.
Sekali lagi, motivasi hidup sangatlah diperlukan sebagai alat yang setia membantu memberikan energi yang tanpa batas kepada kita. disaat kita patah semangat, terjatuh ataupun gagal. Cara mudah memotivasi hidup diri sendiri, yaitu dengan mengumpulkan semua nilai-nilai atau status kehidupan yang selama ini, kita inginkan. Jadikanlah semua itu motivasi kita untuk hidup lebih bernilai
Dalam kehidupan sehari-hari kita mungkin pernah mengalami kejenuhan terhadap suatu hal yang sedang kita jalani. Misal ketika kita sedang melaksanakan kuliah, tentu kita pasti pernah mengalami kejenuhan untuk kuliah entah karena terlalu banyak tugas yang diberikan, banyak tugas yang belum diselesaikan, atau jenuh dengan waktu kuliah yang padat. Namun kejenuhan tersebut tidak boleh terus tumbuh dalam diri kita karena akan berakibat buruk bagi diri kita sendiri. Kita harus memiliki motivasi dalam diri kita agar tujuan kita dapat tercapai dengan baik.
Sebelum kita membahas motivasi lebih dalam ada baiknya kita pahami terlebih dahulu arti kata motivasi. Motivasi adalah dorongan psikologis yang mengarahkan seseorang ke arah suatu tujuan. Motivasi membuat keadaan dalam diri individu muncul, terarah, dan mempertahankan perilaku, menurut Kartini Kartono motivasi menjadi dorongan (driving force) terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu.
Motivasi yang ada pada setiap orang tidaklah sama, berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Untuk itu, diperlukan pengetahuan mengenai pengertian dan hakikat motivasi, serta kemampuan teknik menciptakan situasi sehingga menimbulkan motivasi/dorongan bagi mereka untuk berbuat atau berperilaku sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh individu lain/ organisasi.
Sumber:
by fadlymuin on March 25, 2009
Akhmad Sudrajat, M.Pd.
Kamis, 19 November 2009
METODE RISET (PRIHANTORO)
PENGARUH PENGUMUMAN RIGHT ISSUE TERHADAP BIAYA MODAL DAN VOLUME PERDAGANGAN SAHAM DI BURSA EFEK JAKARTA (BEJ)
Dalam penelitian ini yang diambil adalah pengaruh right issue terhadap biaya modal sebelum dan sesudah right issue dan volume perdagangan saham perusahaan pada saat 5 hari sebelum tanggal pengumuman right issue dan 5 hari setelah tanggal pengumuman right issue dan untuk faktor-faktor lain seperti indeks harga saham gabungan baik faktor internal maupun faktor eksternal seperti pembagian deviden, stock split, tingkat bunga, laba perusahaan, peraturan pemerintah serta peraturan mikro dan makro lainnya tidak diamati. Melalui penelitian ini diharapkan akan diperoleh gambaran bahwa right issue akankah memberikan dampak yang berbeda pada perusahaan go publik. Obyek yang diteliti hanya terhadap perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang dilihat dalam perdagangan saham. Berdasarkan uraian dari latar belakang, yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah “Apakah penerbitan right issue berpengaruh terhadap biaya modal dan volume perdagangan saham di Bursa Efek Jakarta (BEJ).Seharusnya teori struktur modal mampu menjelaskan mengapa harga saham bereaksi negatif terhadap informasi penambahan saham baru, hal ini berbeda dengan asumsi yang ada dalam teori tersebut. Sebagai hasilnya, banyak literature empiris lebih memfokuskan pada teori sinyal (signalling theory) untuk menjelaskan pengaruh penerbitan saham baru terhadap perubahan harga saham dan volume perdagangan saham.
Penelitian Alam (1995), dengan menguji 21 perusahaan yang melakukan right issue selama tahun 1993 di BEJ terhadap tingkat kemakmuran pemegang saham, ditemukan bahwa right issue akan meningkatkan jumlah penawaran saham yang secara teority mempunyai dampak terhadap penurunan harga saham pada periode ex-right. Pemilik saham minoritas akan mengalami dilusi (dilution) ganda dengan adanya right issue. Dilution terjadi karena persentase kepemilikan atas saham perusahaan berkurang (dilusi kepemimpinan) dan juga karena harga saham secara teoritis akan mengalami periode ex-right (dilusi kekayaan).
REFERENSI:
WWW.GOOGLE.COM
Dalam penelitian ini yang diambil adalah pengaruh right issue terhadap biaya modal sebelum dan sesudah right issue dan volume perdagangan saham perusahaan pada saat 5 hari sebelum tanggal pengumuman right issue dan 5 hari setelah tanggal pengumuman right issue dan untuk faktor-faktor lain seperti indeks harga saham gabungan baik faktor internal maupun faktor eksternal seperti pembagian deviden, stock split, tingkat bunga, laba perusahaan, peraturan pemerintah serta peraturan mikro dan makro lainnya tidak diamati. Melalui penelitian ini diharapkan akan diperoleh gambaran bahwa right issue akankah memberikan dampak yang berbeda pada perusahaan go publik. Obyek yang diteliti hanya terhadap perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang dilihat dalam perdagangan saham. Berdasarkan uraian dari latar belakang, yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah “Apakah penerbitan right issue berpengaruh terhadap biaya modal dan volume perdagangan saham di Bursa Efek Jakarta (BEJ).Seharusnya teori struktur modal mampu menjelaskan mengapa harga saham bereaksi negatif terhadap informasi penambahan saham baru, hal ini berbeda dengan asumsi yang ada dalam teori tersebut. Sebagai hasilnya, banyak literature empiris lebih memfokuskan pada teori sinyal (signalling theory) untuk menjelaskan pengaruh penerbitan saham baru terhadap perubahan harga saham dan volume perdagangan saham.
Penelitian Alam (1995), dengan menguji 21 perusahaan yang melakukan right issue selama tahun 1993 di BEJ terhadap tingkat kemakmuran pemegang saham, ditemukan bahwa right issue akan meningkatkan jumlah penawaran saham yang secara teority mempunyai dampak terhadap penurunan harga saham pada periode ex-right. Pemilik saham minoritas akan mengalami dilusi (dilution) ganda dengan adanya right issue. Dilution terjadi karena persentase kepemilikan atas saham perusahaan berkurang (dilusi kepemimpinan) dan juga karena harga saham secara teoritis akan mengalami periode ex-right (dilusi kekayaan).
REFERENSI:
WWW.GOOGLE.COM
METODE RISET (PRIHANTORO)
Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar Amerika:
Bank Indonesia menggunakan band sebagai guidance atas pergerakan nilai tukar maka sejak saat itu tidak ada lagi band sebagai acuan nilai tukar. Namun demikian cukup sulit menjawab apakah nilai tukar rupiah sepenuhnya dilepas ke pasar ( free floating) atau masih akan dilakukan intervensi oleh Bank Indonesia. Dengan mengamati segala dampak dari sistem free floating serta dikaitkan dengan kondisi/struktur perekonomian Indonesia selama ini nampaknya purely free floating sulit untuk dilakukan. Kemungkinannya adalah Bank Indonesia akan tetap mempertahankan managed floating dengan melakukan intervensi secara berkala, selektif , dan pada timing yang tepat.
Dengan melemahnya nilai tukar mata uang Indonesia menandakan lemahnya kondisi untuk melakukan transaksi luar negeri baik itu untuk ekspor-impor maupun hutang luar negeri. Terdepresiasinya mata uang Indonesia menyebabkan perekonomian Indonesia menjadi goyah dan dilanda krisis ekonomi dan krisis kepercayaan terhadap mata uang domestik.
Pembicaraan mengenai penentuan kurs valuta asing sekarang ini semakin banyak diperdebatkan. Jika dilihat dari sudut pandang pendekatan moneter, para ekonom pada umumnya melihat kurs valuta asing dipengaruhi oleh variabel fundamental ekonomi , antara lain jumlah uang beredar, tingkat output riil dan tingkat suku bunga ( Mac Donald daan Taylor, 1992,4) .Sementara itu Tucker etal (1991) menambahkan variabel inflasi dalam model tersebut. Selain itu ada pula ekonom yang mempertimbangkan asa pasar ( market sentiment) sebagai faktor yang menentukan tinggi rendahnya kurs valuta asing. Pendekatan moneter merupakan pengembangan konsep paritas daya beli dan teori kuantitas uang. Pendekatan ini menekankan bahwa ketidakseimbangan kurs valuta asing terjadi karena ketidakseimbangan di sektor moneter yaitu terjadinya perbedaan antara permintaan uang dengan penawaran uang ( jumlah uang beredar) ( Mussa, 1976,47)
Pendekatan yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kurs adalah pendekatan moneter. Dengan pendekatan moneter maka diteliti pengaruh variabel jumlah uang beredar dalam arti luas, tingkat suku bunga, tingkat pendapatan, dan variabel perubahan harga. Selain itu dengan mempertimbangkan pelepasan band intervensi oleh Bank Indonesia, sehingga menyebabkan kurs menjadi free floating ,maka dipakai variable dummy untuk mengetahui pengaruh pelepasan band intervensi terhadap kurs.
Dipakainya dollar Amerika sebagai pembanding, karena dollar Amerika merupakan mata uang yang kuat dan Amerika merupakan partner dagang yang dominan di Indonesia.
REFERENSI :
WWW.GOOGLE.COM
Bank Indonesia menggunakan band sebagai guidance atas pergerakan nilai tukar maka sejak saat itu tidak ada lagi band sebagai acuan nilai tukar. Namun demikian cukup sulit menjawab apakah nilai tukar rupiah sepenuhnya dilepas ke pasar ( free floating) atau masih akan dilakukan intervensi oleh Bank Indonesia. Dengan mengamati segala dampak dari sistem free floating serta dikaitkan dengan kondisi/struktur perekonomian Indonesia selama ini nampaknya purely free floating sulit untuk dilakukan. Kemungkinannya adalah Bank Indonesia akan tetap mempertahankan managed floating dengan melakukan intervensi secara berkala, selektif , dan pada timing yang tepat.
Dengan melemahnya nilai tukar mata uang Indonesia menandakan lemahnya kondisi untuk melakukan transaksi luar negeri baik itu untuk ekspor-impor maupun hutang luar negeri. Terdepresiasinya mata uang Indonesia menyebabkan perekonomian Indonesia menjadi goyah dan dilanda krisis ekonomi dan krisis kepercayaan terhadap mata uang domestik.
Pembicaraan mengenai penentuan kurs valuta asing sekarang ini semakin banyak diperdebatkan. Jika dilihat dari sudut pandang pendekatan moneter, para ekonom pada umumnya melihat kurs valuta asing dipengaruhi oleh variabel fundamental ekonomi , antara lain jumlah uang beredar, tingkat output riil dan tingkat suku bunga ( Mac Donald daan Taylor, 1992,4) .Sementara itu Tucker etal (1991) menambahkan variabel inflasi dalam model tersebut. Selain itu ada pula ekonom yang mempertimbangkan asa pasar ( market sentiment) sebagai faktor yang menentukan tinggi rendahnya kurs valuta asing. Pendekatan moneter merupakan pengembangan konsep paritas daya beli dan teori kuantitas uang. Pendekatan ini menekankan bahwa ketidakseimbangan kurs valuta asing terjadi karena ketidakseimbangan di sektor moneter yaitu terjadinya perbedaan antara permintaan uang dengan penawaran uang ( jumlah uang beredar) ( Mussa, 1976,47)
Pendekatan yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kurs adalah pendekatan moneter. Dengan pendekatan moneter maka diteliti pengaruh variabel jumlah uang beredar dalam arti luas, tingkat suku bunga, tingkat pendapatan, dan variabel perubahan harga. Selain itu dengan mempertimbangkan pelepasan band intervensi oleh Bank Indonesia, sehingga menyebabkan kurs menjadi free floating ,maka dipakai variable dummy untuk mengetahui pengaruh pelepasan band intervensi terhadap kurs.
Dipakainya dollar Amerika sebagai pembanding, karena dollar Amerika merupakan mata uang yang kuat dan Amerika merupakan partner dagang yang dominan di Indonesia.
REFERENSI :
WWW.GOOGLE.COM
METODE RISET (PRIHANTORO)
PENGUKURAN EFISIENSI KINERJA BANK YANG LISTING DI BURSA EFEK JAKARTA
Walaupun berbagai peristiwa yang tidak diharapkan terjadi sejak bergulirnya era reformasi, ternyata hal tersebut tidak mempunyai pengaruh yang berarti terhadap kepercayaan masyarakat untuk menyimpan dananya pada lembaga perbankan. Secara nominal, pengumpulan dana pihak ketiga (DPK) terus menunjukkan peningkatan. Tahun 2004 DPK besarnya 818.20 triliun menjadi 930.20 triliun pada Desember 2005. Bank sebagai lembaga intermediasi yang menghimpun dan menyalurkan dana dari dan ke masyarakat mempunyai peran yang sangat penting dalam mendorong pertumbuhan sektor usaha (riil). Pemulihan fungsi intermediasi perbankan setelah krisis moneter pertengahan tahun 1997 berjalan lambat, hal ini berkaitan dengan lambatnya pergerakan sektor riil. Namun, kondisi perekonomian nasional dalam tahun 2005 masih berada dalam siklus yang fluktuatif. Melemahnya konsumsi, yang dikuti antara lain kenaikan biaya produksi sebagai akibat kenaikan harga BBM, meningkatnya biaya modal karena tingginya tingkat suku bunga, serta belum tuntasnya permasalahan di bidang investasi dan pembangunan infrastruktur, pada gilirannya menyebabkan pertumbuhan investasi mengalami penurunan. Namun dalam kurun waktu tahun 2004 sampai dengan tahun 2005 kegiatan penyaluran kredit baru oleh perbankan menunjukkan trend yang meningkat dari 459.10 triliun menjadi 584.40 triliun.
Berdasarkan statistik Bank Indonesia pada Desember 2005, rasio kredit bermasalah, Non Performing Loan (NPL), yaitu kredit dengan kategori “kurang lancar”, “diragukan”, dan “macet” yang dihitung secara gross (tidak memperhitungkan cadangan) menunjukkan kondisi yang membaik sebagai dampak langsung menurunnya nominal NPL serta meningkatnya posisi kredit perbankan. Sementara itu Bank Indonesia menetapkan target indikatif NPL secara net (memperhitungkan cadangan) sebesar 5% yang menjadi patokan bagi perbankan dalam memperbaiki kualitas portofolio kreditnya. Dari sisi kinerja profitabilitas perbankan nasional menunjukkan kinerja yang baik. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari meningkatnya perolehan laba perbankan.
REFERENSI :
WWW.GOOGLE.COM
Walaupun berbagai peristiwa yang tidak diharapkan terjadi sejak bergulirnya era reformasi, ternyata hal tersebut tidak mempunyai pengaruh yang berarti terhadap kepercayaan masyarakat untuk menyimpan dananya pada lembaga perbankan. Secara nominal, pengumpulan dana pihak ketiga (DPK) terus menunjukkan peningkatan. Tahun 2004 DPK besarnya 818.20 triliun menjadi 930.20 triliun pada Desember 2005. Bank sebagai lembaga intermediasi yang menghimpun dan menyalurkan dana dari dan ke masyarakat mempunyai peran yang sangat penting dalam mendorong pertumbuhan sektor usaha (riil). Pemulihan fungsi intermediasi perbankan setelah krisis moneter pertengahan tahun 1997 berjalan lambat, hal ini berkaitan dengan lambatnya pergerakan sektor riil. Namun, kondisi perekonomian nasional dalam tahun 2005 masih berada dalam siklus yang fluktuatif. Melemahnya konsumsi, yang dikuti antara lain kenaikan biaya produksi sebagai akibat kenaikan harga BBM, meningkatnya biaya modal karena tingginya tingkat suku bunga, serta belum tuntasnya permasalahan di bidang investasi dan pembangunan infrastruktur, pada gilirannya menyebabkan pertumbuhan investasi mengalami penurunan. Namun dalam kurun waktu tahun 2004 sampai dengan tahun 2005 kegiatan penyaluran kredit baru oleh perbankan menunjukkan trend yang meningkat dari 459.10 triliun menjadi 584.40 triliun.
Berdasarkan statistik Bank Indonesia pada Desember 2005, rasio kredit bermasalah, Non Performing Loan (NPL), yaitu kredit dengan kategori “kurang lancar”, “diragukan”, dan “macet” yang dihitung secara gross (tidak memperhitungkan cadangan) menunjukkan kondisi yang membaik sebagai dampak langsung menurunnya nominal NPL serta meningkatnya posisi kredit perbankan. Sementara itu Bank Indonesia menetapkan target indikatif NPL secara net (memperhitungkan cadangan) sebesar 5% yang menjadi patokan bagi perbankan dalam memperbaiki kualitas portofolio kreditnya. Dari sisi kinerja profitabilitas perbankan nasional menunjukkan kinerja yang baik. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari meningkatnya perolehan laba perbankan.
REFERENSI :
WWW.GOOGLE.COM
METODE RISET (PRIHANTORO)
FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP JUMLAH UANG BEREDAR DI INDONESIA SEBELUM DAN SESUDAH KRISIS: SEBUAH ANALISIS EKONOMETRIKA
Lily Prayitno, Heny Sandjaya, Richard Llewelyn
ANALISIS :
Penelitian ini menggunakan analisa regresi dengan model log untuk menganalisa pengaruh pengeluaran pemerintah, cadangan devisa, serta angka pengganda uang (money multiplier) terhadap jumlah uang beredar di Indonesia untuk periode periode sebelum krisis (1990-1997), sesudah krisis (1997-1999) dan secara keseluruhan (1990-1999).
Sebelum krisis hasil menunjukkan bahwa pengeluaran pemerintah secara signifikan berpengaruh positif terhadap jumlah uang beredar (M2); cadangan devisa tidak signifikan terhadap jumlah uang beredar; sedangkan angka pengganda uang berpengaruh negatif dan signifikan terhadap jumlah uang beredar. Sesudah krisis, pengeluaran pemerintah secara signifikan berpengaruh positif terhadap jumlah uang beredar sedangkan cadangan devisa dan money multiplier tidak signifikan. Untuk seluruh waktu analisa, pengeluaran pemerintah dan cadangan devisa berpengaruh secara signifikan dan positif terhadap jumlah uang beredar sedangkan angka pengganda uang tidak signifikan.
Pemerintah diharapkan menerapkan kebijakan fiskal sesuai yang telah diterapkan selama krisis berlangsung serta meningkatkan jumlah cadangan devisa yang dimilikinya. Pemerintah sebaiknya tidak mengandalkan money multiplier dalam kebijakan uang yang beredar karena tidak berpengaruh signifikan terhadap uang yang beredar.
Lily Prayitno, Heny Sandjaya, Richard Llewelyn
ANALISIS :
Penelitian ini menggunakan analisa regresi dengan model log untuk menganalisa pengaruh pengeluaran pemerintah, cadangan devisa, serta angka pengganda uang (money multiplier) terhadap jumlah uang beredar di Indonesia untuk periode periode sebelum krisis (1990-1997), sesudah krisis (1997-1999) dan secara keseluruhan (1990-1999).
Sebelum krisis hasil menunjukkan bahwa pengeluaran pemerintah secara signifikan berpengaruh positif terhadap jumlah uang beredar (M2); cadangan devisa tidak signifikan terhadap jumlah uang beredar; sedangkan angka pengganda uang berpengaruh negatif dan signifikan terhadap jumlah uang beredar. Sesudah krisis, pengeluaran pemerintah secara signifikan berpengaruh positif terhadap jumlah uang beredar sedangkan cadangan devisa dan money multiplier tidak signifikan. Untuk seluruh waktu analisa, pengeluaran pemerintah dan cadangan devisa berpengaruh secara signifikan dan positif terhadap jumlah uang beredar sedangkan angka pengganda uang tidak signifikan.
Pemerintah diharapkan menerapkan kebijakan fiskal sesuai yang telah diterapkan selama krisis berlangsung serta meningkatkan jumlah cadangan devisa yang dimilikinya. Pemerintah sebaiknya tidak mengandalkan money multiplier dalam kebijakan uang yang beredar karena tidak berpengaruh signifikan terhadap uang yang beredar.
Langganan:
Postingan (Atom)
